[Part 1] Dua Lelaki
Cerpen

[Part 1] Dua Lelaki

Untuk kesekian kalinya aku kembali harus pulang malam karena harus menyelesaikan tugas organisasi. Suasana kampus telah sunyi, hanya ada sekitar lima sampai sepuluh mahasiswa yang terlihat oleh kedua bola mataku.

“Kyraa, heeyy”

Aku terbangun dari lamunanku dan menatap teman disebelah kiriku, Maya.

“Eh, ya? Apa may?” sahutku dengan nada yang masih dipenuhi rasa kaget.

“Kok malah apa sih? Kamu tuh yang kenapa? Malam-malam gini malah melamun, ati-ati kesambet Kyra!” ucapnya dengan nada sinis.

“Apaan sih May, aku cuma ngeliatin suasana kampus aja sekilas. Capek tau ngerjain proposal ini dari pagi nggak kelar-kelar”

“Ya makanyaa, kamu jangan bengong mulu kalau mau cepet kelar. Uda yuk buruan dikelarin, supaya bisa cepat pulang jugaa. Uda jam delapan niih”

“Ohmyy, uda jam delapan? Yauda yuk buruan dikelarin”

Aku segera mengubah posisi dudukku menjadi posisi yang lebih serius.

***

Tepat sekitar pukul setengah sepuluh, akhirnya proposal kami pun selesai. Maya telah pergi beberapa menit yang lalu saat ayahnya datang untuk menjemput. Sedangkan aku masih menunggu taksi yang tak kunjung menampakkan wajahnya. Beruntung jalan raya didepan kampus masih cukup ramai, kafe-kafe disekitar pun tak ada yang sepi, sehingga aku pun tak terlalu khawatir jika harus menunggu sendirian. Namun, fokusku dalam memperhatikan setiap mobil yang berlalu-lalang hilang seketika saat seseorang memanggil namaku, lengkap dengan suara berisik dari sebuah sepeda motor.

“Kyra” ucapnya lantang.

Sontak aku pun menoleh ke arah suara tersebut.

“Devon?” ucapku kaget.

“Hai” balasnya, lengkap dengan senyum tipisnya.

“Kamu ngapain kok masih di kampus jam segini?” ucapnya lagi.

“Oh, ini uda mau pulang. Tadi lagi ada tugas, biasa organisasi”

“Yauda yuk aku anterin”

“Eh? Nggak usah, aku bisa pulang sendiri naik taksi”

“Kamu uda nunggu disitu lumayan lama dan belum ada taksi juga kan? Uda deh, ayo aku antar aja. Santai, aku nggak gigit kok. Ayo buruan, keburu makin malam loh” ucapnya dengan nada tegas, tanpa senyuman.

“Dih, apaan sih maksa banget”

“Bukan maksa, aku cuma ngomong fakta. Uda ayo, naik” ucapnya sambil mendekatkan motor ke arahku, memintaku untuk segera naik diboncengan motor.

Aku terdiam untuk sesaat, menimbang-nimbang akan apa yang harus kulakukan. Hingga kemudian sekilas aku melihat senyum di bibir Devon, yang entah bagaimana mampu membuatku merasa tenang. Tanpa berkata-kata, aku segeran naik diboncengan motor Devon. Dan dengan arahan dariku, kami pergi menuju rumahku, menyusuri dinginnya malam dengan mengendarai sebuah sepeda motor. Sayangnya, masih ada sesuatu yang mengganggu pikiranku.

“Bagaimana dia bisa tau kalau aku uda nungguin taksi dari tadi?” tanyaku dalam hati.

***

Sambil menunggu mata kuliah berikutnya, aku duduk di salah satu kursi perpustakaan. Sebuah kursi yang berada diantara deretan lima kursi lainnya, dengan sebuah meja panjang. Aku membolak-balikkan lembar demi lembar buku catatan dan buku referensi dari perpustakaan untuk mengerjakan tugas mata kuliah Akuntansi Dasar yang kudapat kemarin.

“Pusing banget kayaknya, sulit ya tugasnya?”

“Iya nih, sulit banget! Ya ampuunn” balasku.

Aku terdiam sejenak, menyadari ada yang aneh. Siapa yang bertanya padaku? Aku kan ke perpustakaan sendirian. Kemudian aku menoleh ke arah kananku, dan boom! Kulihat Devon yang sedang berdiri.

“Hai” sapanya santai, diiringi dengan menarik kursi di sebelah kananku, kemudian duduk.

“Ngapain?” tanyaku.

“Baca buku lah, ini kan perpustakaan” ucapnya santai sambil melambai-lambaikan sebuah buku yang berada ditangan kanannya.

“Ohh, oke” ucapku singkat, lalu kembali mengerjakan tugas.

Namun, keheningan diantara kami rupanya tak berlangsung lama. Setelah sekitar lima belas menit keheningan mengelilingiku, Devon memecahnya.

“Perlu bantuan?” ucapnya singkat, sambil memperhatikan lembar tugasku.

“Eh?” ucapku kaget.

“Bisa?” lanjutku.

“Hhmm,. coba liat tugasnya”

“Ini” ucapku sambil memberikan lembar tugasku.

Setelah beberapa menit mencoba memahami tugasku, Devon akhirnya menjelaskan.

“What?” ucapku dalam hati ketika melihat Devon yang dengan mudahnya menjelaskan serta membantuku menyelesaikan tugas.

Setelah sekitar tiga puluh menit berlalu, tugasku akhirnya selesai.

Jam tanganku telah menunjukkan pukul 02:50, sepuluh menit lagi mata kuliah berikutnya akan dimulai. Aku pun segera bergegas merapikan buku-bukuku.

“Makasi banget ya Devon uda dibantuin” ucapku.

“Iya, sama-sama. Tapi ngga gratis loh” balasnya.

“Eh?” tanganku yang sedang merapikan buku sontak berhenti dan melihat ke arah Devon.

“Sabtu ini, jam 1 siang aku jemput di rumah kamu ya”

“What? Apaan maksudnya?” tanyaku yang tak mampu memahami maksud dari ucapan Devon.

“Ada film bagus yang mau aku tonton, temenin ya” ucapnya datar, tanpa senyuman, tanpa ekspresi.

“Aku ngga bisa, sorry”

“Beneran ngga bisa?”

“Lagian dimana-mana kalau mau ngajak pergi itu nanya dulu, bukan asal bilang kayak gitu” ucapku sambil kembali merapihkan buku-buku yang tersisa.

“Oh, maaf ya. Yauda aku mau ajak kamu nonton Sabtu ini, bisa?”

“Aku beneran ngga bisa kalo Sabtu ini. Sabtu depan baru bisa”

“Oke, Sabtu depan jam 1 siang yaa”

“Oke”

Aku pun pergi meninggalkan Devon dan berjalan menuju kelas berikutnya, lengkap dengan perasaan kesal atas sikap Devon yang membantuku karena ada tujuan lain.

“Haah, seharusnya aku sadar kalau memang ngga ada yang gratis di dunia ini” ucapku dalam hati.

***

 

——— BERSAMBUNG ———

2 thoughts on “[Part 1] Dua Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top