[Part 5] Dua Lelaki
Cerpen

[Part 5] Dua Lelaki

[Part 1] Dua Lelaki

[Part 2] Dua Lelaki

[Part 3] Dua Lelaki

[Part 4] Dua Lelaki

 

“Kyraa, aku uda jadian sama Anne” tulis Devon dalam sebuah pesan singkat yang ia kirimkan.

Sambil tetap mengaduk segelas teh, aku hanya mampu terdiam menatap pesan tersebut. Aku tak tahu bagaimana harus membalas pesan tersebut. Karena kini yang aku tahu hanyalah sebuah rasa sakit.

Satu tahun telah berlalu sejak malam dimana aku terakhir kali bertemu Vino. Tak banyak perubahan yang terjadi selama itu, hanya saja ada satu hal yang berbeda. Devon menjadi semakin dekat dengan Anne. Sebuah keadaan yang Devon harapkan, tapi rasanya bukan keadaan yang benar-benar aku inginkan. Karena meskipun hubunganku dengan Devon masih tetap baik-baik saja, disaat yang sama pula aku tahu bahwa hatinya tak pernah bersamaku.

Beberapa bulan yang lalu, aku akhirnya menyadari perasaan aneh yang kurasakan saat pertama kali Devon mengatakan bahwa ia suka dengan Anne. Sebuah perasaan yang tanpa kusadari telah ada sejak lama, sebuah perasaan suka lebih dari seorang teman.

Saat itu aku sedang berdiri ditengah keramaian koridor di depan kelas, memperhatikan suasana sekitar untuk sesaat. Hingga lamunanku terpecahkan saat mendengar suara Devon. Kupalingkan wajahku ke arah sumber suara, kemudian kulihat dia yang sedang tertawa bersama Anne. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, tak terdengar jelas. Namun satu hal yang dapat kulihat dengan jelas, sebuah tawa yang terlihat lebih bahagia daripada tawa yang ia tunjukkan saat bersamaku. Sebuah tawa yang seolah mampu menunjukkan isi hati dari seorang Devon. Detik itu, hatiku rasanya sakit. Bulir air mata tanpa ijin keluar begitu saja, membasahi pipi tanpa kusadari.

Sayangnya aku tak punya keberanian untuk mengatakan itu semua. Entahlah, antara rasa takut kehilangan teman baik dan sebuah perasaan aneh yang seolah menahanku untuk tidak mengatakannya membuat hati ini akhirnya memilih untuk menguncinya. Biarlah perasaan ini hanya kusimpan dalam diam, bercampur dengan rasa sakit yang kurasakan setiap melihat Devon yang kini lebih sering bersama dengan Anne.

Aku tak membenci kenyataan bahwa mereka semakin dekat, namun kenyataan bahwa jarak antara aku dan Devon yang perlahan semakin bertambah membuat hati ini sakit. Aku yang dulu terbiasa bersama dengannya, kini perlahan harus terbiasa melihat ia bersama dengan Anne. Seolah ini semua tak adil, karena aku yang telah berusaha mengunci rapat perasaan ini justru merasakan sakit berkali lipat.

Ting!

Lamunanku terpecah saat mendengar notifikasi pesan baru dari ponselku.

Kamu Sabtu besok free ngga? Kita nonton yuk! Uda lama kan ngga nonton hehe” lanjut Devon dalam pesan yang ia kirimkan.

Oke. Jam berapa?” balasku singkat, tanpa merespon pesan Devon sebelumnya.

Jam 1 siang di mall dekat kampus yaa. Kita ketemuan di biokopnya aja. Oke?” balasnya.

Oke” balasku.

“Ketemuan di bioskopnya? Weird, biasanya dia selalu inisiatif mau jemput” ucapku dalam hati.

***

“Aku terlambat!” ucapku dalam hati.

Kemacetan Jakarta yang tak pernah dapat diprediksi membuatku terlambat hampir satu jam. Devon telah tiba di bioskop setengah jam yang lalu, menungguku di sebuah tempat duduk panjang tepat di depan studio 3. Kupercepat langkahku saat berhasil melihat sosoknya. Namun, langkahku terhenti sesaat ketika aku baru menyadari keberadaan seseorang di samping kanan Devon. Kurasa inilah alasan kenapa ia tidak berinisiatif untuk menjemputku.

“Kyraa” panggilnya lantang saat mendapati sosokku yang tak jauh dari tempat mereka duduk.

Segera kubalas panggilan tersebut dengan senyuman tipis dan kembali melangkahkan kakiku mendekati mereka.

“Akhirnyaa datang juga, untung jadwal filmnya masih 20 menit lagi” ucap Devon dengan nada santai.

“Iyaa, maaf ya. Macet banget, padahal biasanya ngga separah ini lho.” balasku.

“Hahaha iyaa, santai” balas Devon.

“Ohiya, kalian belum kenalan secara langsung ya. Kyra kenalin ini Anne, Anne ini Kyra” lanjut Devon sambil bergantian melihat ke arahku dan Anne, yang kemudian dilanjutkan dengan kami yang saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.

***

Tayangan film yang kami saksikan bersama terasa begitu kosong, waktu seolah berjalan sangat lambat. Aku tak lagi mampu menikmati kisah yang tersaji dalam film yang kami tonton. Suasana di dalam bioskop terasa begitu sesak, aku ingin segera keluar dari ruangan yang menyesakkan ini.

Kumainkan ponselku beberapa kali, hanya sekedar membuka kunci, kemudian aku kunci lagi. Aku hanya melihat layar ponselku sesekali, iseng.

Tatapanku terhenti ketika mendapati sebuah pesan masuk yang ada di ponselku. Sebuah pesan dari seseorang yang sedang berada jauh disana.

Hai Kyra, kamu apa kabar?” tulis Vino dalam pesan singkat yang ia kirimkan padaku.

Aku hanya terdiam untuk sesaat, tapi pada detik yang sama pula rasa sesak yang kurasakan sebelumnya perlahan menghilang.

Aku baik. Kamu apa kabar Vino?” balasku.

Aku juga baik” balasnya singkat.

Belum sempat aku menuliskan balasan, Vino mengirimkan dua gambar.

Hah?!” ucapku lantang, kaget.

Kulihat dua gambar yang Vino kirimkan, satu gambar berisi rangkaian kata yang menuliskan tentang sebuah acara pernikahan, sedangkan satu gambar lainnya berisi denah lokasi dari acara pernikahan tersebut.

Rasa sesak yang sebelumnya hendak pergi kini perlahan kembali dan semakin sesak ketika kulihat nama pengantin pria yang tertulis dalam gambar tersebut adalah Vino.

Kupalingkan pandanganku sejenak ke kanan, Anne dan Devon tampak sangat menikmati film yang sedang ditayangkan, berbanding terbalik denganku.

Vino tak lagi melanjutkan pesannya, berhenti pada gambar yang ia kirimkan. Tak ada lagi tambahan kata atau kalimat yang ia kirimkan.

Pandanganku kembali pada sebuah gambar undangan yang Vino kirimkan, dan entah perasaan ini berasal darimana, hatiku merasakan sakit yang melebihi rasa sakit saat aku mendengar Devon mengatakan bahwa ia menyukai Anne.

Hingga tanpa kusadari air mataku telah mengalir begitu saja, mengalir dengan derasnya. Aku seolah baru saja mendapat sebuah hadiah yang telah dipersiapkan secara diam-diam. Berbedanya ini bukanlah hadiah untuk menyenangkanku, tetapi hadiah untuk menyakitiku.

Vino, aku pikir kalung itu punya arti lebih dari sekedar kenang-kenangan. Tapi ternyata hanya aku yang berpikiran seperti itu” ucapku dalam hati.

Aku berpamitan dengan Devon dan Anne, meninggalkan mereka yang sedang serius menonton film.

Malam semakin panjang, waktu seolah terhenti pada jam, menit, dan detik yang sama. Hatiku sakit.

Semua ini begitu rumit, aku sendiri tak mampu benar-benar memahami perasaanku. Bagaimana bisa aku dekat dengan dua lelaki dan tak ada satu pun diantara mereka yang menaruh hati padaku. Semakin rumit lagi karena aku yang seharusnya sadar bahwa tak boleh ada perasaan dalam sebuah pertemanan, justru telah melewati batas.

Dan karena batas yang telah kulewati itulah kini hanya rasa sakit yang kurasakan.

***

 

——— BERSAMBUNG ———

One thought on “[Part 5] Dua Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top