[Part 3] Dua Lelaki
Cerpen

[Part 3] Dua Lelaki

[Part 1] Dua Lelaki

[Part 2] Dua Lelaki

 

Waktu telah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, daripada pulang ke rumah aku justru memilih untuk pergi ke sebuah kafe bersama seseorang dari masa lalu yang kembali muncul. Setelah pergi begitu saja tiga tahun yang lalu, bahkan tak pernah saling menghubungi walau hanya mengucap “apa kabar”, kini dia datang secara tiba-tiba dihadapanku. Entah aku harus bersyukur atau tidak, karena kedatangannya secara mendadak telah berhasil membuat perasaan dari masa lalu pun ikut kembali.

“Ini Kyra” ucapnya, sambil memberikan segelas jus jeruk kepadaku.

“Iya, makasih”

Aku hanya terdiam untuk sesaat, masih tak mampu memahami situasi yang terjadi saat ini. Dia benar-benar kembali, seseorang yang mampu membuat masa-masa awal SMA ku menjadi lebih berwarna, seseorang yang selalu berada disampingku saat aku membutuhkan tempat untuk bersandar. Dia adalah Vino, kakak kelas saat aku dibangku SMA sekaligus salah satu orang penting dalam hidupku.

“Kamu apa kabar Kyra?” tanyanya, memecah lamunanku.

“Oh, kabarku? Ya begitulah. Kamu sendiri apa kabar? Lama juga ya, tiga tahun”

“Kabarku baik. Iya, maaf ya tiga tahun ini ngga ada kabar sama sekali. Aku mau hubungi kamu tapi aku ngga ada nomor kamu”

Well, banyak jalan menuju Roma kan” jawabku sambil melihat dan mengaduk asal jus jerukku.

“Iya, aku minta maaf ya Ra”

“Iya, gapapa. Uda lewat juga, ngga ada yang bisa diubah”

Keheningan mengelilingi kami untuk sesaat, aku hanya mengaduk-aduk jus jerukku, sambil sesekali kuminum.

“Kamu tadi kenapa nangis?” tanyanya, memecah keheningan diantara kami.

Aku yang kaget mendengar pertanyaan Vino sontak memalingkan wajahku kearahnya. Kulihat tatapan matanya yang dipenuhi dengan tanda tanya, sebuah tatapan yang sudah lama tak pernah kulihat.

Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Dia baru saja kembali menemuiku, mana mungkin aku langsung bercerita tentang kondisi kedua orang tuaku. Bukankah seharusnya kita bersenang-senang dahulu? Melepas rindu yang telah tersimpan selama tiga tahun? Tapi rasanya hatiku pun tak sanggup. Rasa sakit atas pernyataan Papa sebelumnya tak mampu hilang begitu saja, terlalu menyakitkan.

“Kenapa Kyra? It’s okay, kamu bisa cerita ke aku. Seperti dulu.” ucapnya.

Aku masih terdiam, mulutku seolah masih terkunci rapat.

“Kamu ingat ngga dulu pertama kali kita mulai dekat karena apa?”

Aku ingat semua itu, tapi aku tak mau mengucapnya.

“Dulu aku mau bantuin kamu ngerjain tugas, awalnya kamu ngga mau karena bilang bisa sendiri. Aku biarin beberapa saat, tapi kamu masih tetap kesulitan ngerjain tugasnya. Aku coba menawarkan bantuan lagi dan akhirnya kamu mau. Setelah itu tugas kamu selesai dengan cepat dan kamu bilang ‘ternyata kalau dikerjain bersama bisa cepat selesai ya’ sambil terseyum lebar hehehe.”

Masih dengan mulut yang tak mau berbicara, entah bagaimana aku tak ingat pernah mengatakan kalimat tersebut padahal aku ingat setiap detail kejadian saat itu.

“Sama seperti sekarang. Kalau kamu ceritain masalah kamu, kurasa kamu akan merasa lebih baik karena ngga menanggung beban itu sendirian.” lanjut Vino lengkap dengan senyumnya.

Melihat senyum itu seolah membawaku kembali pada masa-masa awal SMA. Keteguhanku untuk tak mengatakan apapun tentang orang tua ku akhirnya luluh begitu saja. Aku menceritakan semuanya kepada Vino.

Senyum Vino telah memudar dan menyisakan keheningan diantara kami saat aku selesai menceritakan semuanya.

“Kita ke suatu tempat yuk Ra, aku tau tempat bagus yang mungkin bisa bantu menenangkan perasaan kamu” ucap Vino memecah keheningan diantara kami.

Aku hanya mengangguk.

***

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan menggunakan sepeda motor, kami tiba di sebuah kawasan yang sejujurnya tak asing bagiku, Ancol. Hanya saja yang berbeda adalah jalur Vino saat didalam kawasan tersebut bukanlah jalur yang kuketahui.

Setelah berjalan kaki sekitar sepuluh menit, akhirnya kami tiba di tempat yang dimaksud oleh Vino.

Kulihat pemandangan air laut yang tenang, dengan pantulan cahaya dari gedung-gedung serta lampu-lampu yang ada disekitarnya. Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan kayu dengan laut di sebelah kanan dan kirinya, indah. Sedikitnya pengunjung yang datang membuat tempat ini menjadi semakin menyenangkan.

“Haaahh,. tenang banget disini suasananya” ucapku dalam hati.

“Aku baru tau ada tempat ini di Ancol, Vin” ucapku sambil memalingkan wajahku ke arah Vino yang berada tepat di sebelah kananku.

“Iya, emang belum banyak yang tau daerah sini makanya sepi juga” ucap Vino.

“Hoo,. semoga tetap begini ya, biar ngga rame. Jadi suasananya bisa tetap tenang kayak gini” ucapku yang kemudian disusul dengan menghirup napas dalam-dalam, menikmati udara malam yang menenangkan.

Keheningan kembali menyelimuti kami. Daripada berbicara, aku memang lebih memilih untuk diam dan menikmati suasana ini. Suara-suara ombak kecil yang terdengar samar-samar membuatku semakin hanyut dalam ketenangan ini.

“Papa, Mama, kenapa harus seperti ini?” ucapku dalam hati, sambil memutar kembali kejadian beberapa saat yang lalu, hingga tanpa kusadari air mataku kembali berjatuhan.

“Kyra, aku memang ngga tau seberapa besar rasa sakit yang kamu alami sekarang, tapi yang aku tau orang tua kamu pasti akan tetap mencintai kamu ngga peduli apapun yang terjadi. Menurutku, merelakan adalah cara terbaik. Daripada orang tua kamu memaksakan diri untuk tetap bersama tapi ngga bahagia, bukannya lebih baik mereka berpisah selama masing-masing berbahagia?” ucap Vino.

“Memang kurasa jalan satu-satunya ya cuma merelakan. Tapi aku masih ngga nyangka aja kalau papa dan mama bisa seperti sekarang, padahal dulu kita baik-baik saja. Selalu menghabiskan waktu dengan senyum dan tawa. Sebenarnya apa yang sudah aku lewatkan?” balasku, sambil tetap menatap luasnya lautan dari tepi jalanan kayu.

“Kita sebagai anak memang ngga punya banyak kebebasan kalau menyangkut hubungan orang tua kita. Karena mereka pun selalu menutupi masalah tersebut supaya anak mereka tak ada yang tahu. Ya meskipun pada akhirnya mau ngga mau kita juga akan tahu sih. Tapi menurutku peran kita sebagai anak ya mendukung apapun keputusan yang menurut mereka terbaik. Yang penting kita harus tetap berperan sebagai anak, membahagiakan mereka walaupun nanti uda ngga bersama lagi”.

“Iya, kamu benar Vino. Kurasa seiring berjalannya waktu, aku pasti akan bisa menerima semuanya. Tapi untuk sekarang rasanya masih berat, aku bahkan ngga berani untuk pulang. Aku takut melihat kenyataan menyakitkan itu”.

“Kamu harus kuat Kyra, tetap tegar. Orang tua kamu selama ini mungkin juga berusaha keras untuk tetap terlihat tegar didepan kamu.” ucap Vino sambil memalingkan wajahnya kearahku, lengkap dengan senyum khas seorang Vino.

Aku pun memalingkan wajahku kearahnya, melihat kedua bola mata itu untuk sesaat. Kedua bola mata yang selama tiga tahun ini tak pernah kulihat.

“Iya” ucapku singkat sambil tersenyum.

“Kita disini dulu sebentar ya, aku masih mau nenangin diri disini. Suasananya enak banget.” lanjutku sambil kembali menatap luasnya lautan yang ada dihadapanku.

“Iya, lama juga ngga masalah. Aku temenin kok hehehe.” ucapnya.

Malam semakin larut, dan seiring bergantinya detik menjadi menit, menit menjadi jam, jam menjadi hari, aku akhirnya mampu setidaknya bersikap tegar meski hanya sesaat. Aku hanya ingin melihat orang tua ku bahagia, meski perceraian yang harus ditempuh. Menyakitkan, tapi aku hanya mampu bersikap tegar didepan mereka. Aku tak ingin rasa sakit mereka bertambah saat melihatku bersedih. Setidaknya aku masih punya cukup banyak kenangan indah saat bersama mereka yang takkan pernah kulupakan.

***

 

——— BERSAMBUNG ———

One thought on “[Part 3] Dua Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top