[Part 6 - LAST] Dua Lelaki
Cerpen

[Part 6 – LAST] Dua Lelaki

[Part 1] Dua Lelaki

[Part 2] Dua Lelaki

[Part 3] Dua Lelaki

[Part 4] Dua Lelaki

[Part 5] Dua Lelaki

 

Hari demi hari berlalu tanpa kusadari, semua berjalan seperti bagaimana seharusnya. Kehidupanku biasa saja, tak ada yang menyenangkan. Aku dan Devon memang masih berteman baik, tapi jarak yang terbentuk diantara kami tak lagi dapat dihindari. Sedangkan Vino, aku tak pernah tahu bagaimana kabarnya. Terakhir kali kami saling berkirim pesan adalah saat ia mengirimkan gambar undangan pernikahannya.

Jarak antara aku dan Devon semakin bertambah ketika kami mendapat pekerjaan di kota yang berbeda. Ia kini bekerja di Samarinda, sedangkan aku tetap di Jakarta. Usiaku kini menginjak 27 tahun, sebuah usia yang mulai mendapat banyak pertanyaan tentang “kapan nikah?”.

Setiap mendapat pertanyaan itu aku selalu teringat kembali dengan Vino. Entahlah, mungkin karena memori terakhirku dengannya adalah tentang kenyataan bahwa dia akan menikah dengan seseorang. Perasaan itu memang tak lagi menyakitiku seperti dahulu, tapi entah bagaimana perasaan itu seolah masih menyisakan luka, sebuah luka yang aku sendiri tak tahu bagaimana cara menyembuhkannya.

Hatiku pun seolah terkunci, bertahun-tahun aku tak lagi merasakan perasaan itu. Bertahun-tahun pula aku tak pernah dekat dengan lelaki manapun, selain hanya sebatas pekerjaan atau teman organisasi.

“Wah ini si Bunga diam-diam uda langsung sebar undangan aja” ucap Lisa, teman kantorku.

“Kamu kapan Kyra?” lanjutnya.

“Eh? Kenapa jadi nanya aku?” jawabku, lengkap dengan ekspresi bingung atas pertanyaan mendadak dari Lisa.

“Cewek di divisi kita tinggal kamu aja loh Kyra yang belum nikah. Kemarin iya ada si Bunga yang nemenin, sekarang Bunga uda mau nikah berarti kan tinggal kamu aja nih hehehe” ucapnya jahil.

“Yaudalah, santai aja. Lagian aku ngga buru-buru juga. Nikah itu kalo uda ketemu yang cocok, bukan karena tinggal aku doang yang belom nikah” balasku santai.

“Ahahaha iyadehh bu guru Kyra” ucap Lisa lengkap dengan tawanya.

“Oh iya, aku jadi ingat! Suamiku punya teman, dia direktur di perusahaan tempat suamiku kerja. Katanya dia lagi cari calon istri tuh” lanjutnya.

“Hah? Yakin itu direktur? Kok direktur malah belum punya istri?”

“Hahaha, mana ada hubungannya Kyra! Emangnya dia harus punya istri dulu baru jadi direktur gitu? Kan enggak! Lagian dia masih muda, makanya dia juga santai. Gitu sih kata suamiku.”

“Oh” ucapku acuh, tidak terlalu berminat untuk mengetahui cerita tentang direktur tersebut.

“Kamu mau ngga?”

“Mau apaan?” tanyaku, tak mengerti apa tujuan dari pertanyaan Lisa.

“Ya sama direktur itu”

What?!” ucapku dengan lantang, kaget.

“Duh, kaget! Santai dong” ucap Lisa, terkejut.

“Lagian ngapain sih tiba-tiba nanya begitu”

“Ya kali aja kamu mau coba kenal dulu Ra”

“Engga deh Lisa, makasih” ucapku acuh.

“Ayolah Ra, coba kenal aja dulu. Selama ini aku ngga pernah lihat kamu dekat sama cowok manapun. Ini ada kesempatan, coba aja dulu. Kalau memang dari awal kamu merasa ngga cocok yauda menjauh aja. Yayaya?” ucap Lisa, memohon.

“Lisa kamu tahu kan aku ngga bisa kenalan sama cowok dengan tujuan seperti itu” jawabku santai, sambil melihat tatapan Lisa yang dipenuhi harapan.

“Iya aku tahu kok. Nanti ketemuannya berempat, sama aku dan suamiku. Jadi ngga cuma kalian berdua. Gimana?”

Aku terdiam untuk sesaat, mempertimbangkan permintaan Lisa.

“Oke deh”

“Yeeaayy!!” ucapnya lantang dan penuh semangat.

“Nanti aku kabarin lagi ya kapan dan dimananya” lanjut Lisa.

“Iya” ucapku singkat.

Sejujurnya aku kurang berminat dengan tawaran Lisa, tapi rasanya mungkin sekarang memang waktu yang tepat bagiku mulai membuka hati. Meskipun aku sendiri tak mengerti bagaimana caranya.

***

Aku tiba di sebuah restaurant dengan nuansa jepang sekitar pukul empat sore. Lisa dan suaminya, serta si direktur yang disebutkan oleh Lisa telah tiba beberapa menit yang lalu. Aku memperhatikan sekitar, melihat ke kiri dan kanan, mencari sosok Lisa.

Kudapati dia sedang duduk tak jauh dari posisiku berdiri, melihat ke arahku dan melambaikan tangan. Di depannya duduk dua orang yang kurasa adalah suami Lisa dan temannya, si direktur.

“Maaf ya telat, tadi harus bantuin Mama nyiapin kue buat acara besok” ucapku pada Lisa yang posisinya masih sekitar satu meter dari posisiku berjalan.

“Iya gapapa, kita juga baru beberapa menit yang lalu kok” sahutnya.

“Ohya Kyra kenalin ini Vino. Vino kenalin ini Kyra” lanjutnya.

“Vino?” tanyaku dalam hati.

Belum sempat aku duduk di kursi tepat sebelah Lisa, kedua bola mataku seolah langsung mencari sosok Vino yang baru saja Lisa sebutkan.

“Hah?” tanyaku dalam hati, yang semakin tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi.

Dia benar-benar Vino, orang yang aku kenal. Mata kami saling bertemu, namun hanya keheningan dan perasaan kaget yang menyelimuti tatapan kami.

“Apa kabar Kyra?” tanyanya, lengkap dengan senyuman tipis khas seorang Vino.

Kualihkan pandanganku ke bawah dan duduk tepat di samping Lisa.

“Loh kalian uda saling kenal?” tanya Lisa.

Kulirik Vino yang hanya tersenyum dan mengangguk perlahan.

Seolah masih tak mampu memahami keadaan, aku hanya terdiam, tak sedikit pun mata ini melihat ke arah Vino. Entahlah, seperti masih ada rasa sakit yang tertinggal setiap mengingatnya, apalagi ketika harus bertemu dengannya, tak pernah sedetik pun terbayangkan itu akan terjadi. Kami tak pernah lagi berkomunikasi, sudah jelas tidak ada alasan bagi kami untuk bertemu.

Tapi sekarang? Kenapa?

“Kyra!” ucap Lisa lantang, memecah lamunanku.

“Eh? Ya?”

“Kamu kenapa diam aja? Bukannya kalian saling kenal?”

“Yah, iya sih kenal. Tapi uda lama ngga komunikasi.”

Seolah mampu membaca situasi, Lisa langsung berdiri diikuti suaminya.

“Karena kalian uda saling kenal, jadi gapapa ya kita tinggal. Anggap aja reuni, ketemu teman lama hehehe” ucapnya sambil mengedipkan mata ke arahku.

“Eh?”

Belum sempat aku menahan, Lisa dengan cepat menggandeng tangan suaminya dan pergi meninggalkan kami berdua.

Atmosfir diantara kami begitu berat, hanya keheningan yang mengisi ruang diantara kami.

“Foto undangan yang aku kirim beberapa tahun lalu, itu batal” ucap Vino memecah keheningan diantara kami.

Kualihkan pandanganku ke arah Vino. Dia hanya tersenyum sambil menatapku.

“Kok bisa?” tanyaku, yang kini dipenuhi rasa penasaran.

“Itu sebenarnya pernikahan politik, urusan bisnis. Ceritanya panjang banget sih, tapi intinya aku terpaksa harus nikah dengan anak rekan bisnis papaku demi mempertahankan perusahaan papa. Meskipun aku menuruti permintaan itu, tanpa sepengetahuan papa, aku diam-diam mencari sumber dana sendiri untuk perusahaan agar rencana itu bisa batal. Beruntung aku berhasil dapat investor dengan jumlah pendanaan yang tinggi, jadi papa setuju pernikahan itu dibatalin meskipun undangan sudah disebarkan.”

“Kalau pernikahan itu batal, artinya uda bertahun-tahun yang lalu dong? Bahkan ngga jauh setelah kamu kirim foto itu?”

“Iya”

“Tapi kenapa kamu ngga pernah bilang? Maksudku yah untuk sekedar memberikan informasi.”

“Aku punya alasan sendiri untuk itu. Kurasa sekarang bukan saat yang tepat untuk aku beritahu alasannya karena kita baru aja ketemu setelah sekian lama. Dan sejujurnya aku senang banget akhirnya bisa ketemu kamu lagi, aku harap kamu masih simpan kalung itu.” ucapnya yang kini lengkap dengan senyuman dan pipi yang memerah.

“Kalung? Dia masih ingat dengan kalung itu?” tanyaku dalam hati.

Aku hanya terdiam, tak tahu harus menjawab apa.

Namun, disaat yang bersamaan sebagian dari diriku entah bagaimana merasa sangat lega, seolah beban bertahun-tahun yang kurasakan hilang begitu saja. Dan semakin aneh lagi karena kini aku merasakan ada sebuah ruang yang terbuka lebar didalam hatiku. Seolah pintu yang selama ini tertutup rapat terbuka kembali setelah akhirnya menemukan kunci yang tepat.

 

 

 

——— SELESAI ———

One thought on “[Part 6 – LAST] Dua Lelaki

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top