[PART 1] Pied Piper
Cerpen

[PART 1] Pied Piper


Judul: Pied Piper
Karya: ViaViiaa

 


“Mel, tolong desain untuk proyek Pameran Kebudayaan diselesaikan hari ini ya, mereka mendadak minta preview nya besok”

“Tapi saya sekarang lagi ngerjain yang proyek Pembukaan Resto itu pak?”

“Itu ditunda dulu aja, deadline nya masih lama. Kamu kerjakan yang ini dulu ya”

“Baik pak”

Perkenalkan namaku Amelia Lituhayu, bekerja sebagai desainer sebuah perusahaan advertising. Jika ditanya apakah pekerjaan ini menyenangkan? Dapat kukatakan iya, karena memang inilah hal yang kusuka sejak lama.

Aku sangat menikmati pekerjaanku, berangkat ke kantor pagi hari, pulang malam hari, semua kujalani dengan senang hati. Tapi sayangnya semua begitu monotone, kehidupanku seolah hanya berputar dalam lingkaran yang sama. Tak ada yang menarik, aku pun tak tahu bagaimana cara membuat hidupku menjadi lebih menarik.

Karena pada dasarnya aku cukup menikmati kehidupanku yang monotone ini.

Meskipun hati kecilku tak sepenuhnya setuju dengan pernyataan tersebut.

***

Ditengah luasnya ruangan kantor, hanya tersisa lima orang yang masih fokus dengan pekerjaan masing-masing, termasuk aku dan atasanku. Pekerjaanku akhirnya dapat terselesaikan sekitar pukul delapan malam, setelah melewati berbagai macam revisi dari atasanku. Tak menjadi masalah, karena ini telah menjadi makanan sehari-hariku. Mendapat perkerjaan dengan deadline super singkat, mendadak, banyak revisi, dan sebagainya.

“Amel!” suara seorang cewek yang tak asing tiba-tiba mengagetkanku, Liana.

“Hei, kaget aku! Ada apa?” ucapku.

“Coba kamu lihat ini deh! Aku pengen coba ikutan tapi ngga berani kalau sendirian.” ucapnya sambil memberikan ponselnya.

Kulihat sebuah halaman website yang menampilkan itinerary dari sebuah open trip dengan destinasi Labuan Bajo. Sangat menarik, tapi sejujurnya aku pun takut jika ingin mengikuti open trip. Kenapa? Entahlah, aku hanya merasa sepertinya akan tidak nyaman jika pergi berlibur dengan orang-orang yang baru saja kutemui.

“Gimana? Kamu tertarik mau ikut ngga? hehehe” tanya Liana dengan semangat namun juga penuh harapan.

“Oke, yuk!” balasku singkat.

Tawaran Liana tentu saja aku setujui karena memang aku pun ingin mencoba open trip. Dan dengan keberadaan Liana, kurasa akan mampu mengurangi kekhawatiranku tentang perasaan tidak nyaman jika harus berlibur dengan orang yang baru kukenal.

***

Satu bulan berlalu, aku baru saja pulang dari open trip ke Labuan Bajo. Tak seperti yang kutakutkan, rupanya mengikuti open trip sangat menyenangkan. Benar canggung diawal, karena memang aku tak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi perlahan, rasa canggung itu rupanya mampu berubah menjadi rasa berani. Dan kini, lingkaran pertemananku pun bertambah. Aku mengenal beberapa orang baru.

Tak hanya itu, aku bahkan bergabung dengan grup mereka dalam sebuah aplikasi chatting untuk berbagi informasi seputar open trip. Sayangnya berbeda denganku, Liana ternyata kurang cocok dengan konsep open trip yang jadwalnya telah diatur, tidak bisa seenaknya berubah. Sementara dia tipikal orang yang ketika berlibur lebih memilih pergi sesuka hati, tanpa batasan waktu, serta bebas memilih akan pergi kemana.

Sejak bergabung dengan grup tersebut, aku mendapat banyak informasi tentang berbagai macam agen penyedia open trip. Aku pun beberapa kali mendapat tawaran untuk ikut open trip, namun sayangnya pekerjaanku sedang menumpuk. Tak ada waktu untuk berlibur meski hanya satu hari.

Tiga bulan berlalu dengan cepat, kehidupanku tentu saja masih sama, pergi pagi, pulang malam. Seolah tak pernah bosan, pekerjaan selalu datang bersama dengan deadline yang singkat. Jika sebelumnya aku menikmati keseharianku yang monotone ini, entah bagaimana kini benar-benar membosankan. Aku seakan mulai lelah mengulang kegiatan-kegiatan yang sama setiap harinya.

Ting!

“Guys, open trip untuk minggu depan ke Singapura masih ada slot nih ternyata. Ada yang mau ikutan lagi ngga?” tulis seseorang dalam sebuah grup chatting.

“Aku ikut” balasku dalam percakapan grup chatting tersebut.

Tanpa benar-benar kusadari, kalimat tersebut kukirimkan begitu saja. Aku bahkan belum memastikan apakah minggu depan ada pekerjaan yang harus kuselesaikan atau tidak.

***

Sejak perjalanan open trip ke Singapura yang kulakukan secara mendadak, karena memang kuputuskan untuk pergi tanpa berpikir panjang, entah bagaimana aku merasa lebih hidup, kegiatanku menjadi lebih berwarna. Well, aku memang tidak pergi open trip setiap hari, tapi kini setidaknya dalam satu bulan aku dapat mengikuti minimal tiga open trip.

Sangat menyenangkan!

Tetapi rasanya ada harga yang harus kubayarkan, karena setiap open trip yang kulakukan selalu memaksaku untuk minimal cuti dua hari, dan kini cutiku telah habis tak bersisa. Apakah ini artinya aku harus berhenti sejenak untuk tidak mengikuti open trip? Entahlah, memikirkannya saja aku tak sanggup.

Matahari telah menghilang dari titiknya sejak satu jam yang lalu, digantikan dengan bulan dan beberapa bintang yang terlihat samar-samar. Sambil ditemani deretan lagu favorit, aku mengerjakan setiap detail pekerjaan yang telah lama menunggu untuk kuselesaikan. Ya, tak hanya berperngaruh pada cuti, sering mengikuti open trip juga membuat pekerjaanku menumpuk. Ditambah dengan deadline yang tak pernah panjang membuatku mau tidak mau harus menyelesaikannya sesegera mungkin, bahkan hingga larut malam sekalipun.

Banyaknya pekerjaan yang seolah tak memberiku istirahat membuat waktu berlalu dengan sangat cepat. Dua bulan kuhabiskan waktuku hanya untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Open Trip? Jangan ditanya, tentu saja tidak bisa.

“Kenapa kamu ngga coba minta remote working aja Mel?”

Pertanyaan itu masih terus terngiang dalam benakku setelah salah satu teman yang kukenal saat open trip memberikan saran atas kondisiku sekarang. Sebuah kondisi dimana aku sangat ingin pergi open trip namun pekerjaan dan cuti yang tidak mendukung.

Jujur setelah sering mengikuti open trip, kemudian tidak mengikutinya dalam beberapa waktu, bahkan lebih dari satu bulan, entah bagaimana mampu membuatku merasa sangat bosan. Padahal jika dibandingkan dengan kegiatanku dulu, tentu saja ini tak seberapa. Kehidupanku dulu jauh lebih membosankan, meski anehnya aku tetap nyaman dengan keadaan tersebut.

“Iya, silahkan masuk” ucap suara dibalik pintu yang baru saja kuketuk.

Setelah mengumpulkan keberanian sebanyak mungkin, aku akhirnya ingin mencoba untuk bernegosiasi dengan atasanku. Sebuah negosiasi untuk bekerja dari rumah atau biasa kita sebut remote working.

“Oh, kamu Mel. Ada apa?” ucapnya.

“Begini pak, maaf sebelumnya apa saya boleh remote working?”

Remote working?” tanyanya lengkap disertai ekspresi penuh dengan tanda tanya.

“Iya pak” ucapku lirih, merasa tidak yakin jika akan disetujui.

“Kenapa tiba-tiba minta remote working? Apa ada masalah di kantor? Dengan suasana kantor? Atau dengan teman kantor?”

“Enggak kok pak, bukan karena dua-duanya. Itu, sebenarnya saya penasaran aja mau coba remote working. Saya mau coba kerja di tempat lain selain di kantor, merasakan suasana baru gitu pak” ucapku lengkap dengan senyum yang kubuat senatural mungkin.

“Hhhmm, sebenarnya pekerjaan kamu memang bisa sih dikerjakan dimana saja, nggak harus di kantor. Tapi apa kamu yakin bisa fast respond ketika dihubungi kantor selama jam kerja? Karena kuncinya remote working itu komunikasinya harus bagus.”

“Bisa pak, saya pasti akan fast respond supaya komunikasinya juga bagus” ucapku dengan semangat.

“Kapan kamu mau mulai remote working?”

“YES!” seruku dalam hati.

“Besok bagaimana pak?” tanyaku lengkap dengan mata yang berbinar.

“Wah cepat banget. Sekarang lagi ada proyek yang deadline nggak?”

“Ada dua proyek yang besok sore harus selesai pak, karena lusa mau present. Sisanya deadline minggu depan pak.”

“Kalau gitu kamu mulai remote working nya lusa aja ya. Besok tolong selesaikan dua proyek itu dulu.” ucapnya santai.

“Oke baik pak. Terimakasih pak. Kalau gitu saya permisi dulu ya pak.”

“Iya”

Segera setelah kembali ke meja, aku segera mengetikkan sebuah pesan di ponselku.

“Aku ikut!” tulisku.

***

 

 

——— BERSAMBUNG ———

Part Selanjutnya :

 

Baca Juga:


10 thoughts on “[PART 1] Pied Piper

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top