[PART 2 - LAST] Pied Piper
Cerpen

[PART 2 – LAST] Pied Piper

[PART 1] Pied Piper

 

Hampir dua bulan aku melakukan remote working. Kegiatanku, kehidupanku, semua menjadi semakin menyenangkan. Kini hampir setiap hari aku melakukan open trip. Berpindah dari kota satu ke kota lainnya, dari negara satu ke negara lainnya. Aku bebas pergi kemanapun tanpa pusing memikirkan cuti. Pekerjaan pun baik-baik saja, aku tetap mampu menyelesaikannya tepat waktu.

“Aku ngga sabar deh besok akhirnya kita ke House of BTS! Yes yes yes!” ucap salah satu temanku.

Mendengar kata BTS, tentu saja berhasil membuat kedua bola mata ini mencari sumber suara. Disinilah aku, sedang berada di sebuah kamar hotel dengan ukuran yang terbilang luas karena mampu menampung hingga enam orang. Tentu saja aku satu kamar dengan lima temanku yang juga perempuan. Ini adalah hari ketiga kami berada di Seoul, Korea Selatan, dan besok adalah hari bebas dimana kami mampu menentukan sendiri kemana tujuan kami. Aku dan dua teman trip ku yang merupakan fans dari BTS, tentu saja menggunakan kesempatan ini untuk pergi ke House of BTS.

Bangkit dari posisi, kini aku duduk tak jauh dari kedua temanku yang sedari tadi membicarakan tentang bayangan mereka akan keseruan esok hari. Begitu pula denganku, hanyut dalam bayangan-bayangan kesenangan yang besok akan kita lakukan.

Hingga tanpa sadar aku melupakan sesuatu yang sangat penting.

Keesokan harinya kami tiba di House of BTS pukul sepuluh pagi, dan benar saja sesuai dugaan pasti tempatnya sangat ramai. Padahal pintu masuk pun belum sepenuhnya dibuka karena memang jam sepuluh pagi adalah jam bukanya. Kami bertiga pun ikut masuk ke dalam antrian yang mengular tersebut. Lima menit kemudian pintu masuk House of BTS dibuka, antrian mulai berjalan perlahan.

Setelah menunggu sekita satu jam, kami bertiga akhirnya mendapat giliran untuk masuk ke House of BTS.

“Wuaaaaa baguuss bangeett!!” ucapku penuh semangat bahkan sejak pertama menginjakkan kaki di dalam ruangan yang bertema warna pink tersebut.

Aku dan dua temanku ini segera mengunjungi setiap titiknya yang benar-benar instagram-able, sangat sayang jika harus dilewatkan. Mulai dari replika tempat-tempat yang ada di beberapa video musik BTS, hingga foto bersama member BTS secara virtual yang menggunakan teknologi AR. Terakhir, tentu saja kami mengunjungi bagian merchandise yang begitu banyak pilihan. Ingin rasanya membeli semua masing-masing satu, tapi itu tidak mungkin karena pasti akan menyulitkanku saat pulang nanti.

Terbuai dengan kesenangan di House of BTS, tanpa sadar aku mengabaikan sesuatu yang sangat penting.

***

Sampai di hotel kami masih tak mampu menghentikan pembahasan tentang betapa kerennya House of BTS yang baru saja kami kunjungi. Membicarakan satu per satu merchandise yang berhasil kami beli, melihat satu per satu hasil foto yang kami dapatkan, hingga larut malam.

Pukul enam pagi, aku terbangun dari tidurku, memperhatikan sekitar, teman-teman sekamarku masih tertidur semua. Jadwal trip kami hari ini memang baru dimulai pukul sepuluh pagi, itu sebabnya mereka masih dengan santainya berada di alam mimpi. Aku mengambil segelas air mineral, kuminum perlahan sambil mencari ponsel yang aku bahkan lupa kapan terakhir kali membukanya, mungkin kemarin pagi.

“Astaga!” ucapku kaget, kemudian meletakkan gelas minumku di meja.

“Amel, kenapa ngga diangkat telfonnya? Desain untuk presentasi nanti sore gimana? Kok belum dikirim juga?”

“Ini uda jam 12 siang Mel, meetingnya jam 3 sore. Uda ngga ada banyak waktu, tolong segera dikirim ya”

“Mel, saya telfon kok masih belum bisa? Satu jam lagi meeting dimulai. Desainnya tolong segera dikirim ya. Kamu tahu persis kalau ini proyek besar kan? Tolong ya, Mel”

“Besok pagi tolong kirim desainnya ya, Mel”

Bagaimana tidak terkejut, baru membuka ponsel aku langsung mendapati puluhan telepon dari kantor, dan belasan pesan yang dikirimkan oleh orang kantor. Termasuk pesan-pesan diatas, yang dikirimkan oleh atasanku.

Sambil tanpa henti merutuki diri sendiri, aku berjalan cepat mencari laptop dan segera menyelesaikan desain yang diminta oleh atasanku.

“Oh no!” ucapku kaget, saat mendapati desain yang diminta atasanku rupanya bahkan belum 50% kukerjakan.

“Kenapa aku bisa lupa ngerjain ini sih?” tanyaku dalam hati, kemudian tanpa sadar memutar kembali memori ingatan yang mungkin dapat menjawab pertanyaanku.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, aku baru saja selesai mengirimkan desain yang diminta atasanku. Tentu saja dilengkapi dengan pesan yang berisi permintaan maaf atas kelalaianku.

“Haaah,. untung bisa selesai cepat. Jadi aku masih tetap bisa ikut jadwal trip hari ini. Rugi banget kalau nglewatin salah satu itinerary di Seoul” batinku.

***

“Mel, barusan saya kirim list yang perlu di revisi ya. Tolong update sebelum sore, karena meetingnya jam empat sore”

Sambil tetap berjalan mengikuti yang lainnya menikmati suasana salah satu museum terkenal di Seoul, aku fokus membaca pesan dari atasanku, serta list revisi yang telah dikirimkan.

“Hhhmm,. Ngga terlalu banyak, minor juga. Tapi kalau ngerjain sekarang ngga bisa, laptopku ada di hotel” gumamku, kemudian memperhatikan sekitar, sekilas.

“Ohiya, jam tiga sore nanti kan balik ke hotel. Lanjut lagi malamnya. Oke, berarti bisa dikerjain nanti pulang dari sini. Sip!” gumamku semangat, kemudian berjalan cepat menyejajarkan langkahku dengan yang lainnya.

Pukul dua siang rupanya kami telah tiba di hotel, aku segera melangkahkan kakiku menuju kamar.

“Mel, ikutan yuk. Kita mau ke kafe dekat sini, tempatnya asik banget. Nih coba kamu liat foto-fotonya” ucap seseorang tepat didepanku sambil memberikan sebuah ponsel dengan akun Instagram yang berisi foto-foto dari sebuah kafe.

Aku terdiam sejenak, memperhatikan beberapa foto-foto yang ada di akun tersebut.

“Loh ini kan kafe yang lagi hits banget itu kan?” ucapku kaget saat mendapati beberapa foto yang memang taka sing bagiku.

“Yes! Tepat sekali.” ucap orang didepanku dengan semangat.

“Yauda yuk!” jawabku singkat yang juga tak kalah semangat.

Tanpa berpikir panjang aku segera mengikuti langkah beberapa teman trip ku menuju kafe yang dibicarakan. Masih ada waktu untuk itinerary berikutnya, sehingga kita dapat mengunjungi beberapa tempat seru di sekitar hotel kami.

Kembali terbuai dengan kesenangan menikmati tempat-tempat seru yang kudatangi, hingga tanpa sadar aku telah mengabaikan sesuatu yang seharusnya kulakukan sejak beberapa jam lalu.

***

“Sekali lagi saya mohon maaf ya Pak” ucapku lembut pada sambungan telepon yang telah berjalan sejak beberap menit yang lalu.

“Untuk kali ini masih saya toleransi, karena beruntung client ngga cerewet dan proyek goal. Tapi tetap saja, karena revisi kemarin ngga kamu kerjakan, saya jadi harus meminta desainer lain untuk mengerjakannya. Beruntung dia bisa selesaikan meski ngga sepenuhnya paham dengan konsep proyeknya. Lain kali tolong jangan diulangi lagi ya Mel” ucap seseorang di seberang sana, yang tersambung melalui telepon, atasanku.

“Baik Pak, kedepannya ngga akan saya ulangi lagi. Terimakasih Pak.” ucapku pelan.

“Oke, silahkan lanjutkan task yang lainnya.”

“Baik Pak.”

Sambungan telepon dimatikan.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi, lima belas menit yang lalu seharusnya aku telah meninggalkan hotel dan pergi bersama rombongan trip ku untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di Seoul. Namun aku dengan terpaksa tidak ikut karena harus menyelesaikan masalah dengan atasanku. Sebuah masalah yang terjadi akibat dari kelalaianku atas pekerjaan.

Beruntung aku hanya mendapat teguran, dan proyek tetap mampu berjalan sesuai rencana. Jika tidak, bukan hal yang mustahil jika detik ini aku telah menerima Surat Peringatan.

“Oke Amel, ayo kerja! Jangan sampai kamu dapat Surat Peringatan!” ucapku dalam hati.

***

Satu bulan kembali berlalu, kegiatanku tentu saja masih bekerja dengan suasana yang berbeda setiap harinya. Menikmati pemandangan yang berbeda dari kota satu ke kota lainnya, dari negara satu ke negara lainnya. Sangat menyenangkan hingga aku selalu terbuai dengan kesengangan itu. Yang tanpa sadar telah membawaku tiba pada sebuah titik yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Amel, tolong segera datang ke kantor ya. Ada yang perlu saya bicarakan.”

Aku hanya mampu terdiam saat membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh atasanku. Sebuah pesan yang entah bagaimana langsung mampu memberikan firasat buruk setelah membacanya.

Tiga hari kemudian aku tiba di Indonesia setelah mengikuti open trip ke Jepang. Sesuai permintaan atasanku, setelah membersihkan diri di rumah, aku langsung bergegas menuju kantor untuk menemui atasanku.

Kulihat jam pada ponselku yang menunjukkan pukul sebelas siang, masih ada waktu sebelum makan siang.

Tok Tok Tok

“Silahkan masuk” terdengar suara dari balik pintu yang baru saja kuketuk.

“Permisi Pak” ucapku pelan.

“Duduk dulu Mel” ucap beliau pelan, sambil mempersilahkanku untuk duduk di kursi tepat didepan meja beliau.

Aku segera duduk di kursi tersebut, perlahan namun tidak dengan jantungku. Sudah sejak tadi aku gugup, khawatir dengan apa yang akan atasanku katakana.

“Ini Mel” ucap beliau sambil memberikan sebuah amplop putih.

Aku terdiam sejenak, tak mampu meredam rasa kaget yang merasukiku. Namun, belum sempat aku bertanya tentang surat tersebut, atasanku langsung melanjutkan kalimatnya.

“Surat Peringatan Pertama” ucap beliau pelan namun juga tegas.

Aku masih terdiam menatap amplop putih tersebut, tak punya keberanian untuk menatap atasanku.

“Kinerja kamu menurun Mel selama sebulan terakhir. Yang fatal adalah minggu lalu, saat kamu tidak bisa mengirimkan desain dan tidak bisa dihubungi sama sekali. Satu proyek gagal karena client tidak mau menunggu meski hanya satu hari, padahal proyek itu sangat diinginkan oleh investor kita. Saya sampai bingung harus mencari alasan apa saat ditanya investor kemarin. Beruntung hal tersebut tidak dipermasalahkan lebih jauh. Tapi tetap saja satu proyek baru saja gagal kita dapatkan.”

Aku hanya mampu terdiam saat mendengar penjelasan tersebut. Sama sekali tak memiliki alasan untuk menyangkalnya. Karena itu semua memang kesalahanku.

“Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya Pak” ucapku pelan.

“Mulai besok kamu harus kembali bekerja di kantor ya Mel. Tidak ada lagi remote working.

“Baik Pak”

“Sebenarnya kinerja kamu selama ini itu selalu bagus Amel, makanya saya heran kenapa kamu bisa sampai melakukan hal fatal ini. Sangat berat saya mengeluarkan SP 1 untuk kamu. Tapi saya ngga punya pilihan lain karena kesalahan kamu ini cukup fatal dan tidak bisa ditoleransi. Saya harap kamu bisa mengerti dengan keputusan saya.”

“Iya Pak, saya mengerti. Ini memang sepenuhnya karena kesalahan saya. Dan saya benar-benar minta maaf ya Pak.” ucapku pelan sambil menatap beliau.

“Oke, kalau gitu kamu bisa kembali lagi ke kantor besok.”

“Baik Pak. Terimakasih. Saya Permisi.” ucapku pelan sambil berpamitan kemudian pergi meninggalkan ruangan beliau.

“Apa yang aku khawatirkan teryata terjadi juga” batinku.

***

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan, disinilah aku sekarang. Duduk dibalik jendela kafe, menatap indahnya langit sore yang menampakkan jalannya matahari menuju titik terbenamnya di barat, dengan langit yang berwarna orange.

Sambil sesekali menikmati oreo frappe serta french fries, dengan earphone yang terpasang di telinga, aku mendengarkan deretan lagu di playlist ku yang semuanya adalah lagu dari boyband favoritku, BTS. Perpaduan yang cukup menyenangkan, setidaknya mampu menjadi obat untuk meringankan kesedihanku.

Dalam diam aku hanya mampu mengingat kembali kejadian-kejadian yang kualami beberapa bulan ini. Betapa bodohnya aku yang dengan mudah terbuai akan semua kesenangan itu, hingga lupa dengan kewajiban yang seharusnya menjadi prioritas utamaku.

Tak heran jika kini aku menerima surat tersebut, memang sangat pantas.

Hingga matahari terbenam sepenuhnya, aku masih tetap terdiam pada posisi yang sama. Masih dengan merutuki diri sendiri yang begitu bodoh karena mengikuti kesenangan semata dan mengabaikan kewajiban. Sungguh aku tak ingin lagi seperti ini, cukup sekali saja. Sudah seharusnya aku membagi waktu antara pekerjaan dengan kesenanganku. Bukannya justru memberikan sepenuhnya waktuku untuk bersenang-senang.

 

~

Beol batneun geon anijanha
Iri wa nan neoui paradise
Can’t close your eyes
Can’t close your eyes
Balbeodungchyeobwado deoneun soyongeopseul geol
Nal geobuhaji ma
Geunyang nuneul gamgo gwi giuryeobwa

Pirisoril ttarawa i noraereul ttarawa
Jogeum wiheomhaedo na cham daljanha
Neol guhareo on geoya
Neol mangchireo on geoya
Niga nal bureun geoya bwa daljanha

Geurae naega jom wiheomhae
Nado nareul gamdang moshae
Geokjeong ma naui soneun
Neoegeman ttatteushae ttatteushae

Manyage naega neol
Mangchigo issneun georamyeon
Nareul yongseohaejullae
Neon na eopsin mot sanikka
Da anikka
I’m takin’ over you
I’m takin’ over you

 

[English Translate]

You’re not being punished
Come here, I’m your paradise
Can’t close your eyes
Can’t close your eyes
You can throw a fit but it’s no use
(Don’t reject me)
Just close your eyes, tune your ears

Follow the sound of the pipe, follow this song
It’s a bit dangerous but I’m so sweet
I’m here to save you, I’m here to ruin you
You called me, see? I’m so sweet
Follow the sound of the pipe

Yeah, I’m a bit dangerous
I can’t even handle myself
Don’t worry, my hands
They’re only warm for you

If I’m ruining you right now
Please forgive me
Because you can’t live without me
Because you know all of this
I’m takin’ over you
I’m takin’ over you

 

Song: Pied Piper by BTS

 

——— SELESAI ———

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top