[PART 7 – LAST] Hujan di Bawah Payung
Cerpen

[PART 7 – LAST] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

[PART 2] Hujan di Bawah Payung

[PART 3] Hujan di Bawah Payung

[PART 4] Hujan di Bawah Payung

[PART 5] Hujan di Bawah Payung

[PART 6] Hujan di Bawah Payung

 

“Waktu itu aku benar-benar kalut dalam kesedihan, Dio. Aku bahkan tak mengerti perasaan itu berasal darimana. Perlu waktu satu minggu untuk aku menenangkan diri, menghilangkan perasaan sedih yang muncul setiap saat. Setelah cukup tenang, aku akhirnya sadar tentang bagaimana kamu mengalami itu semua Dio”

Aku terdiam sejenak, dan untuk kesekian kalinya aku tak mampu menahan tetes air mata yang kembali membasahi pipiku.

“Meski hanya asumsi, tapi aku yakin 99% inilah yang terjadi”

Aku kembali terdiam, memandangi ukiran nama “Ahmad Dio Saputra” yang ada dihadapanku.

“Kamu pasti terlalu memaksakan diri untuk ngerjain tugas-tugasku waktu itu. Enggak, bukan cuma tugasku, tapi tugas kita. Karena kita selalu satu kelas dan artinya kamu mengerjakan tugas dengan jumlah dua kali lipat, sampai kamu lupa waktu, lupa istirahat. Yang akhirnya berakibat pada kesehatan jantung kamu”

“Aku tau kamu mau bantu aku, tapi harusnya ya nggak dipaksain juga dong Dio”

Aku terdiam, tangisanku semakin sulit untuk dihentikan. Mengingat penyebab kematian Dio karena kelelahan membuatku semakin merasa bersalah. Andai saja saat itu aku menolak bantuan dari Dio, pasti ini semua takkan pernah terjadi.

Penyesalan memang selalu datang diakhir. Merasakan penyesalan yang mendalam pun takkan ada gunanya karena waktu tak mampu diputar kembali. Merelakan kepergian Dio tidak sama dengan membuang rasa bersalah yang kurasakan. Perasaan bersalah itu selalu ada, entah akan bertahan hingga kapan.

“Apa ini hukuman dari kamu untuk aku Dio? Hukuman atas sikap aku yang seenaknya memanfaatkan kebaikanmu waktu itu?”

Aku mengusap mata dan pipiku yang basah oleh air mata.

“Silahkan kamu hukum aku dengan apapun Dio, tapi tidak dengan cara seperti ini!”

Aku kembali terdiam dan hanya memandangi sebuah batu nisan bertuliskan “Ahmad Dio Saputra” tanpa lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian untuk kesekian kalinya air mataku kembali membasahi pipi ini.

Air hujan masih tetap turun dengan derasnya, tanpa menunjukkan tanda-tanda mereda. Dalam genggamanku masih erat pegangan payung persahabatan kami. Meskipun payung kesayanganku ini mampu melindungi tubuh ini dari setiap tetes air hujan yang menghampiri, namun payung ini tak mampu melindungiku dari tetesan air mata yang terus mengalir tak kalah derasnya.

Tujuh bulan kepergian Dio rupanya belum mampu menyembuhkan semua kesedihan serta rasa bersalah yang menghantuiku. Meskipun mustahil, tapi aku selalu berharap mampu memutar waktu kembali dan mengubah semua perlakuanku pada Dio saat itu.

Aku menatap stiker kecil bermotif seorang cowok dan cewek pada pegangan payung yang kupegang, hingga muncul sebuah pemikiran dalam benakku “Untuk apa aku menggunakan payung ini jika payung ini bahkan tak mampu melindungiku dari hujan yang kini juga muncul dibawah payung”.

“Hujan dibawah Payung. Mungkin kalimat tersebut yang mampu menggambarkan kondisiku saat ini Dio”

Aku kembali terdiam, mengusap pipi kanan dan kiriku untuk yang kesekian kalinya.

“Entah ini uda yang keberapa kalinya, setiap hujan turun, setiap aku menggunakan payung persahabatan kita, setiap kali itu pula aku menangis, tanpa aku sadari semua ingatan tentang kamu selalu datang begitu saja Dio”

Perasaan sedih dan bersalah, kemudian penyesalan mendalam yang kurasakan seolah tak mau pergi dengan mudahnya. Aku ingin semua perasaan tak menyenangkan ini pergi, tapi aku tak pernah tau bagaimana cara mengusirnya.

“Terimakasih karena telah hadir dalam kehidupanku Dio. Keberadaanmu disampingku sejak kita berusia tujuh tahun uda berhasil membuat hari-hariku jadi lebih berwarna. Kamu orang yang sangat baik, aku yakin Tuhan pasti menempatkanmu di tempat terindah. Maaf atas sikapku yang membuat kamu jadi seperti ini. Maaf karena hingga detik ini aku masih belum mampu menghilangkan semua perasaan tak menyenangkan ini. Maaf karena kini aku telah membuat payung persahabatan kita menjadi sedikit sia-sia, karena payung ini nyatanya tak mampu melindungiku dari Hujan dibawah Payung yang hingga detik ini pun belum mampu kuhentikan. Semoga suatu hari nanti akan ada pertolongan yang mampu membantuku menghapus semua perasaan tak menyenangkan ini dan membuat payung ini menjadi sepenuhnya berguna. Aku pergi dulu ya Dio, aku pasti akan datang lagi.”

 

 

——— SELESAI ———

4 thoughts on “[PART 7 – LAST] Hujan di Bawah Payung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top