[PART 6] Hujan di Bawah Payung
Cerpen

[PART 6] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

[PART 2] Hujan di Bawah Payung

[PART 3] Hujan di Bawah Payung

[PART 4] Hujan di Bawah Payung

[PART 5] Hujan di Bawah Payung

 

“Bodohnya aku! Kenapa waktu itu aku ngga bisa dengan mudah membuat keputusan. Coba kalau waktu itu aku bisa kerjakan semua tugasku sendiri, pasti ini semua ngga akan terjadi!”

Langit siang ini terlihat semakin gelap, hanya ada satu dua orang yang datang untuk berkujung. Tetesan air hujan yang sedari tadi telah menampakkan wujudnya pun kini semakin banyak jumlahnya. Tak terhitung berapa tetes air hujan yang telah menyentuh payung kesayanganku siang ini.

***

Hari ini adalah hari terakhirku membantu Reza, tepat satu minggu setelah hari dimana Dio menawarkan diri untuk membantu mengerjakan tugasku. Karena beberapa alasan, proses pembuatan film pendek yang sebelumnya hanya tersisa dua hari terpaksa harus bertambah. Jika biasanya aku selalu berangkat bersama dengan Reza dari kampus, kali ini berbeda. Entah hal penting apa yang membuatnya harus pergi terlebih dahulu.

Lokasi hari ini adalah di sebuah rumah yang tak jauh dari kampus kami. Hanya berjarak sekitar tiga ratus meter, sangat terjangkau meski hanya ditempuh dengan berjalan kaki.

Aku berjalan sendiri menyusuri setapak demi setapak jalan trotoar dari kampus menuju rumah tersebut. Setelah menempuh perjalanan selama sekitar lima menit, aku akhirnya tiba tepat di depan gerbang rumah tersebut. Belum genap aku memperhatikan suasana rumah tersebut yang dipenuhi beberapa motor milik teman-teman Reza, aku menemukan sebuah bayangan dari orang yang tak lagi asing bagiku.

Entah atas alasan apa, rasa penasaranku begitu tinggi. Aku berjalan melewati pintu gerbang rumah tersebut, hingga tiba di dekat ujung depan tembok bagian kiri rumah tersebut. Langkahku terhenti ketika mendengar dengan jelas suara yang tak asing bagiku, suara milik Reza yang entah sedang berbicara dengan siapa. Namun satu hal yang mampu kupastikan, lawan bicara Reza adalah seorang cewek.

“Aku nggak mau tau pokoknya kamu harus tanggung jawab” ucap cewek tersebut dengan nada yang cukup lantang namun dengan volume suara yang rendah.

“Apaan sih, itu kan belum tentu anak aku. Emangnya kamu selama ini ngelakuin itu cuma sama aku aja? Pasti enggak kan?” ucap Reza dengan nada yang juga tak kalah lantang.

“Aku ngelakuin itu cuma sama kamu Reza”

“Pokoknya aku nggak mau tanggung jawab karena nggak ada bukti kalau itu anak aku! Udah jangan gangguin aku lagi!” ucap Reza dengan nada yang jauh lebih lantang dari sebelumnya.

Aku hanya diam, kaget mendengar apa yang baru saja mereka bicarakan. Aku sama sekali tak menyangka jika Reza mampu melakukan hal seperti itu bahkan lari dari tanggung jawabnya. Masih dalam kebisuan dan rasa kaget yang menyelimuti, tanpa kusadari Reza telah berada tepat dihadapanku.

“Anne?” ucapnya dengan ekspresi wajah yang diselimuti tanda tanya.

“Kamu ngapain disini? Kamu baru sampai?” lanjutnya.

Masih dalam kebisuan, aku melihat seorang cewek muncul dari balik tembok, tepat berada dibelakang Reza lengkap dengan matanya yang bengkak dan berkaca-kaca.

Aku menatap cewek tersebut dengan seksama, memperhatikan setiap titik dari tubuhnya. Entah perasaan darimana, aku merasa setiap ucapan cewek tersebut yang kudengar tadi adalah kejujuran. Kupalingkan mata ini ke arah Reza, menatap matanya yang mampu kutangkap sebagai perasaan gelisah. Tak perlu mengkonfirmasi secara langsung, hanya dengan menatap kedua bola mata mereka yang ada dihadapanku kini telah mampu menjawab keraguanku beberapa saat yang lalu, sebuah keraguan akan kebenaran dari apa yang baru saja kudengar.

“Aku sama sekali nggak nyangka kalau kamu kayak gitu Reza”

Detik itu juga kupalingkan pandanganku dan berlari meninggalkan rumah tersebut. Hingga tanpa kusadari seiring dengan langkah kakiku yang terus melaju, air mataku pun ikut melaju dengan derasnya melewati pipiku.

Aku tak tahu berlari kearah mana hingga tanpa kusadari aku telah kembali lagi ke kampus, dan duduk di sebuah kursi panjang yang sama dengan saat aku dan Dio mengembalikan rasa hangat diantara kami yang sempat hilang dalam beberapa hari.

Masih dengan tangisan yang belum mampu kuhentikan, kuambil telepon genggamku. Namun, belum genap aku mencari nama seseorang yang akan kuhubungi, nada suara telepon masuk segera berbunyi.

Dio

Incoming Call . . .

“Ah, dia memang selalu tau saat aku membutuhkannya” ucapku.

“Halo, Dio” sapaku dengan nada suara bersemangat.

“Halo, Anne. Ini tante Mona” ucap suara dari telepon yang rupanya bukan suara Dio, namun suara tante Mona yang entah bagaimana terdengar begitu lesu.

“Oh, tante. Ada apa tante? Kok telepon Anne pake nomornya Dio?”

Tante Mona hening sejenak, disertai suara isak napas yang mampu kudengar dalam sepersekian detik.

“Anne, Dio uda nggak ada”

Kalimat singkat yang tante Mona ucapkan seakan mampu meruntuhkan semua sisa semangat yang kumiliki.

“Maaf tante, itu beneran? Tapi kemarin Anne baru aja ketemu sama Dio”

“Iya Anne, semua begitu cepat. Tante juga nggak nyangka”

“Tante sekarang dimana? Dio dimana tante?”

“Tante di rumah sakit seberang kompleks, Dio ada disini. Di ruang UGD”

“Oke tante, Anne kesana sekarang”

Aku segera bangkit dari posisi dudukku, berlari menuju gerbang kampus. Segera kuhentikan taksi yang melintas, dan meminta diantar menuju rumah sakit yang tepat berada di seberang gerbang masuk kompleks tempat aku dan Dio tinggal.

Kulangkahkan kaki ini secepat mungkin, menuju ruang UGD seperti yang telah disebutkan oleh tante Mona.

Sampai di ruang UGD mataku dengan sigap mencari ke berbagai arah hingga aku melihat tante Mona yang sedang duduk disamping sebuah tempat tidur pasien sambil menangis dan om Beni yang berdiri disamping tante Mona sambil mengusap punggung tante Mona, untuk menenangkan.

“Om, Tante” ucapku dengan nada suara yang lesu, tak bertenaga.

“Anne, kamu barusan datang?” tanya tante Mona.

Aku hanya mengangguk perlahan.

Kulangkahkan kakiku mendekati tempat tidur pasien yang ada didepan tante Mona dan om Beni. Saat tiba tepat disamping tempat tidur tersebut, kakiku lemas, jantungku berdetak kencang, air mata tak lagi mampu kutahan saat melihat monitor detak jantung yang berada disamping tempat tidur lengkap dengan garis hijau lurus yang ditampilkannya.

“Dioo” teriakku, namun dengan volume suara yang rendah.

Napasku menjadi sesak, tangisku seolah tak mampu dihentikan. Bahkan pelukan tante Mona yang sejak beberapa menit lalu telah berusaha menenangkanku pun tak mampu menghentikan tangisan ini.

“Kenapa tante? Dio kenapa?” tanyaku disertai isak tangis yang tak mampu kutahan meski hanya satu detik.

“Dio terkena serangan jantung. Kata dokter penyebabnya karena kelelahan, ada pembuluh darah yang tersumbat, dan itu yang menyebabkan Dio terkena serangan jantung. Dokter uda coba berbagai cara supaya detak jantungnya kembali lagi, tapi semuanya sia-sia” ucap tante Mona dengan wajah yang lebih sedih.

Mendengar penjelasan tante Mona membuatku semakin bungkam. Kemudian entah perasaan darimana aku merasa sangat bersalah. Dan perasaan sangat bersalah itu membuat tangisanku semakin sulit untuk dihentikan.

Seperti kata pepatah “Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga”, tak cukup dengan kesedihanku atas apa yang telah Reza perbuat, kini aku harus merasakan kesedihan yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah kesedihan atas kepergian sahabat terbaikku bersamaan dengan rasa bersalah yang masih belum mampu kupahami alasan keberadaannya.

***

 

——— BERSAMBUNG ———

One thought on “[PART 6] Hujan di Bawah Payung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top