Cerpen

[PART 3] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

[PART 2] Hujan di Bawah Payung

 

“Kenapa harus seperti ini Dio? Aku tau aku salah, tapi tolong jangan hukum aku seperti ini Dio. Kenapa kamu harus ngelakuin hal itu?”

Tangisanku semakin menjadi saat teringat deretan kejadian yang terjadi setelah hari pengakuan Dio satu tahun yang lalu.

***

Setelah pengakuan Dio hari itu di tengah derasnya hujan dan dibawah payung persahabatan, kami melanjutkan perjalanan pulang kami. Seperti biasa, Dio sampai di rumah terlebih dahulu karena rumahnya lebih dahulu kami lewati, dan lima rumah kemudian baru aku sampai ke rumahku.

Di dalam kamar yang hening, setelah selesai mengganti pakaian serta membersihkan diri, aku hanya terdiam sambil memandangi langit-langit kamarku.

Dalam batin aku berkata:

“Dio kamu kok bisa suka sih sama aku?”

“Kenapa harus ada rasa suka lebih dari sahabat?”

“Kenapa juga ini jantungku jadi nggak karuan?”

“Ya ampuunn,. Besok harus gimana dong ketemu dia?”

“Kayaknya aku nggak bisa deh kalo harus bersikap seperti biasanya”

“Haduh tau deh”

Keesokan harinya, seperti biasa Dio menjemputku di rumah. Dan aku sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak canggung.

“Pagi Dio” sapaku.

“Eh, iya Anne. Uda siap?” balasnya lengkap dengan senyum khas seorang Dio.

“Iya, yuk berangkat”

Kami berpamitan dengan kedua orang tuaku, dan berjalan menuju sekolah. Jarak dari perumahan kami dengan sekolah hanya sekitar delapan ratus meter, cukup terjangkau meski hanya dengan berjalan kaki.

Entah hanya perasaanku saja atau memang hari itu ada yang berbeda, rasanya atmosfir antara aku dan Dio cukup berbeda. Keheningan diantara kami cukup panjang jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Rasa canggung yang muncul akibat pernyataan tiba-tiba Dio seakan tak mampu kami hindari.

Satu minggu pun berlalu dengan cepat, hubungan kami masih baik-baik saja meski terdapat sedikit rasa canggung diantara kami.

“Anne”

“Ya?”

Sambil tetap fokus pada poselku, aku menghentikan langkahku dengan sekilas melihat kearah Dio yang tepat berada di sebelah kananku.

“Kamu belakangan seru banget sama hp. Ada apa emangnya?” tanya Dio dengan ekspresi wajah yang dipenuhi rasa penasaran.

“Oh iya aku belum cerita ya? Ini Dio, kamu tau Reza kan? Anak basket itu lhoo” ucapku sambil menunjukkan sebuah foto yang merupakan foto Reza.

“Iya tau, dia kenapa emangnya?”

“Aku lagi chatting an sama dia hehehe” jawabku dengan penuh semangat.

“Kok bisa? Sejak kapan? Kayaknya aku nggak pernah lihat kamu bareng sama dia deh” balas Dio dengan ekspresi wajah yang semakin dipenuhi rasa penasaran.

“Yah, emang bener sih aku ngga pernah barengan sama dia sekali pun. Tapi beberapa hari yang lalu dia ke kelas aku dan tiba-tiba minta nomor Whatsapp aku. Katanya dia pengen temenan dan pengen dekat sama aku hihihi”

“Trus langsung kamu kasih gitu nomor kamu?”

“Iya dong! Secara dia itu Reza, anak populer di sekolah. Uda tinggi, ganteng, pemain basket andalan pula. Pikirku rugi aja kalo aku nolak permintaan cowok sekeren dia hihihi. Lumayan kan kalau bisa dekat sama dia, trus dia ternyata suka sama aku, trus dia nembak aku? Hwaaaa” ucapku yang semakin bersemangat.

“Aiishh,. Mulai deh ngayalnya” ucap Dio yang kali ini ekspresi wajahnya berubah menjadi rasa kesal.

“Berharap dikit nggak masalah dong. Positive thinking! Hehehe”

Kali ini Dio hanya terdiam sambil menganggukkan kepalanya. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang dengan keheningan yang semakin meningkat.

Hubunganku dan Reza semakin dekat, beberapa kali kami pergi bersama entah itu hanya sekedar ngobrol di kafe, nonton film, atau melakukan hal-hal kecil lainnya. Hingga tanpa kusadari perasaan aneh mulai muncul dalam diriku. Keberadaan Reza disampingku entah bagaimana selalu mampu membuatku merasa bahagia, sangat bahagia.

Hari-hariku berlalu dengan menyenangkan, hingga tiba hari itu. Hari dimana aku merasa sebagai orang paling bahagia di dunia. Hari yang rasanya sudah kutunggu sejak awal pertemuan kami. Tepat satu hari sebelum kami wisuda kelulusan, Reza memintaku untuk datang ke sebuah taman yang tak jauh dari sekolah kami.

Malam yang tenang terasa begitu gemerlap saat aku melewati setapak demi setapak jalanan di taman. Tak perlu waktu lama untukku berjalan sendiri di tengah taman dengan lampu-lampu yang redup ini. Karena tak jauh dari tempatku berdiri, kedua mata ini mampu melihat sosok yang sangat kukenali.

Kulihat Reza yang sedang berdiri di depan sebuah kursi panjang dengan lampu taman di kiri dan kanannya. Terlihat tampan dengan menggunakan kemeja putih dan celana jeans biru tua. Saat sosok itu tepat berada di depanku, berjarak hanya sekitar satu langkah kakiku, bahkan belum sempat aku mengucap sebuah kata, ia langsung mengatakan sesuatu yang entah sejak kapan selalu ingin kudengar.

“Anne,. Kamu mau ngga jadi pacar aku?” ucap Reza sambil mengulurkan dan membuka sebuah kotak kecil berwarna merah yang berisi sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati.

Rasa kaget yang tak mampu kuhindari membuat bibir ini seolah terkunci. Aku terdiam untuk beberapa saat.

“Iya, aku mau” ucapku lengkap dengan senyum dan pipiku yang memerah.

 

 

 

——— BERSAMBUNG ———

One thought on “[PART 3] Hujan di Bawah Payung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top