[PART 5] Hujan di Bawah Payung
Cerpen

[PART 5] Hujan di Bawah Payung

[PART 1] Hujan di Bawah Payung

[PART 2] Hujan di Bawah Payung

[PART 3] Hujan di Bawah Payung

[PART 4] Hujan di Bawah Payung

 

Aku hanya mampu terdiam. Kaget mendengar kalimat Dio yang begitu tiba-tiba. Baru sekitar dua minggu yang lalu dia dengan mudahnya memberiku bantuan, tapi kenapa berubah seperti ini dalam waktu yang singkat.

“Eh? Kenapa?”

“Kamu harus berusaha nyelesaiin tugas kamu sendiri Ann. Kalau ngga gitu kamu bakal bergantung terus dan yang ada kamu bisa ngga ngerti sama sekali dengan tugas-tugas itu”

“Tapi Dio, it’s just sometime, not everytime”

“It’s everytime Ann. Kita selalu sekelas, aku tahu persis apa aja tugas kita. Dan semua tugas selalu kamu kasih ke aku. Ngga ada satupun yang kamu kerjain sendiri. It’s a bad habbit Ann”

“Tapi Dio, bukannya kamu sendiri ya yang waktu itu dengan senang hati mau ngebantuin aku? Kenapa sekarang jadi gini?”

“Kalau satu atau dua kali, it’s fine Ann. Tapi ini masalahnya uda berkali-kali. Aku bukannya ngga mau bantu, aku cuma ngga mau kamu terbiasa dengan hal ngga baik seperti ini”

Entah apa yang merasukiku, seketika aku merasa kesal ketika Dio mengatakan bahwa ini semua adalah hal yang tidak baik. Bukankah saling tolong menolong adalah hal yang wajar, dan juga baik.

“Fine! Aku bakal kerjain sendiri tugas-tugas ini. Aku ngga bakal minta bantuan kamu lagi” dengan dipenuhi amarah aku segera pergi meninggalkan Dio.

Masih tersisa sekitar lima hari lagi yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas film pendek Reza. Aku sampai di rumah sekitar pukul tujuh malam, kemudian mandi dan berganti pakaian. Aku bersiap untuk tidur. Namun, belum genap lima menit aku membaringkan tubuh di kasur, seketika aku teringat dengan tugas-tugas yang dikembalikan oleh Dio tadi siang.

Entah kenapa mengingat kejadian tadi siang membuatku kembali merasa kesal. Ucapan Dio seolah mengatakan bahwa apa yang kulakukan selama ini adalah hal yang tidak baik. Tapi aku hanya meminta bantuannya. Momennya saja yang tidak tepat, karena kebetulan aku sedang membantu Reza mengerjakan tugas film pendeknya. Tentu saja waktu yang kumiliki untuk mengerjakan tugas menjadi semakin singkat. Dan itulah yang membuatku memberikan semua tugasku kepada Dio. Tak ada maksud lain, aku hanya tak punya banyak waktu untuk menyelesaikannya.

Masih dipenuhi dengan rasa kesal terhadap sikap Dio tadi siang, tanpa sadar aku pun terlelap dan melupakan hal penting yang seharusnya kuselesaikan malam itu juga.

Tanpa menyadari ada sesuatu yang kurang, aku memulai pagi hari di kampus dengan santai seperti biasanya. Namun, semua rasa santai itu sirna seketika saat dosen mata kuliah Dasar Seni Rupa dan Desain meminta semua mahasiswa untuk mengumpulkan tugas paper masing-masing.

“Ya ampun!!” seruku kaget.

Untuk sesaat aku hanya terdiam ketika menyadari bahwa tugas paper yang diminta oleh dosen sama sekali belum aku kerjakan. Belum genap keinginanku untuk meminta pengecualian dari dosen, beliau telah mengatakan dengan lantang “Saya tidak menerima alasan apapun bagi yang belum mengerjakan, dan nilai otomatis nol bagi yang tidak mengumpulkan hari ini”. Tak ada lagi yang mampu kulakukan, kecuali pasrah.

Selama tiga hari berturut-turut aku melakukan kesalahan yang sama, yaitu lupa mengerjakan tugas-tugas kuliahku. Entah apa yang telah merasukiku hingga benar-benar lupa tentang tugas kuliahku. Hubunganku dan Dio tak ada perkembangan sedikitpun,  kami seolah dua orang yang tak saling kenal. Berada di kelas yang sama pun tak mampu menjadi obat untuk kami berdua.

Masih tersisa dua hari lagi untuk menyelesaikan tugas film pendek Reza, namun tugas kuliahku pun tak kunjung berkurang. Seolah mati satu tugas, akan tumbuh ratusan tugas lainnya. Entahlah, aku seakan tak mampu menentukan mana yang harus kudahulukan, atau bagaimana cara membagi waktuku. Disaat kebingunganku tak lagi mampu dihentikan, disaat aku belum mampu membuat pilihanku sendiri, pertolongan tak terduga tiba-tiba saja datang menghampiriku.

Bersama dengan rasa bingung yang tak mampu dihentikan, aku duduk disebuah kursi panjang dengan pemandangan rumput-rumput hijau disekitar jalan setapak dan lalu lalang mahasiswa yang lewat diantara rerumputan hijau tersebut. Aku terdiam, masih mencoba mempertimbangkan mana yang harus kudahulukan, membantu Reza atau mengerjakan tugas kuliahku yang tak kunjung selesai. Hingga aku menyadari kehadiran seseorang yang telah duduk tepat disampingku.

“Hai Ann” ucapnya.

Aku memalingkan pandanganku ke kanan, mencari sumber suara tersebut dan kudapati Dio yang telah duduk tepat di sebelah kananku.

“Oh hai Dio” kubalas sapaannya dengan nada sesantai mungkin, berusaha menyembunyikan rasa kesal yang masih kusimpan atas sikap Dio tiga hari yang lalu.

“Kamu kenapa sih Ann?”

“Apanya yang kenapa?”

“Tugas-tugas kamu, kenapa ngga pernah ada yang dikerjakan?”

“Belum sempat aja, ngga ada waktu”

“Emang kamu harus banget ya bantuin Reza sampe malem gitu? Kamu bilang lah kalau kamu juga punya banyak tugas”

“Karena aku uda janji mau bantuin dia, dan aku ngga mau tarik janji aku begitu saja Dio” ucapku dengan nada yang tak lagi lantang seperti sebelumnya.

Dalam beberapa saat keheningan datang diantara kami. Aku hanya diam memandangi rumput-rumput hijau di depanku.

“Sini tugas-tugas kamu” ucap Dio memecah keheningan diantara kami.

Detik itu pula aku memalingkan wajahku, memandang wajah Dio dengan banyak tanda tanya.

“Ha?” balasku singkat, masih tak mampu memahami apa yang baru saja kudengar.

“Aku aja yang ngerjain tugas-tugas kamu” ucap Dio singkat, lengkap dengan senyum tipis yang berhasil menampilkan lesung pipi khas seorang Dio.

“Tapi kan kemarin kamu bilang . . .”

“Iya, maaf karena uda ngomong kayak gitu kemarin” balas Dio dengan suara yang lebih lemas, seolah tanpa tenaga serta memalingkan wajahnya yang kini tak lagi menatapku, melainkan menatap sepasang sepatu sneaker yang sedang ia gunakan.

Melihat Dio yang seolah dipenuhi rasa bersalah membuatku semakin penasaran dengan alasannya berubah pikiran ingin kembali membantuku.

“Aku juga minta maaf karena sempat marah kemarin, tapi sekarang aku juga jadi penasaran, kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran? Kenapa sekarang kamu mau bantu aku lagi?”

“Entahlah, sepertinya aku capek lihat kamu ngga ngumpulin tugas setiap hari hehehe” ucap Dio yang kembali memalingkan wajahnya dan menatapku dengan tawa ringannya.

“Iihh apaan sih, kok malah ngeledekin”

“Tapi bener kan??”

“Yaa iya sih”

“Nah iya, emang bener hehehe”

Kalimat-kalimat bercanda yang dilontarkan oleh Dio membuatku merasa lebih tenang, seolah atmosfir aneh yang selama beberapa hari ini berada diantara kami telah luntur begitu saja, digantikan dengan atmosfir hangat yang selama ini selalu ada diantara kami berdua.

“Makasih ya Dio”

“Iya sama-sama Ann”

“Maaf karena aku harus ngerepotin kamu untuk yang kesekian kalinya”

“It’s fine Ann, aku senang bisa bantu kamu”

Kedua bola mata kami saling menatap untuk beberapa saat, saling melempar senyum hangat yang dalam beberapa hari ini telah hilang diantara kami berdua. Aku benar-benar merasa sangat tertolong dengan keberadaan Dio disampingku. Disaat aku mengalami kebingungan yang tak berujung, ia datang dengan mudahnya membantuku dan membuang semua kebingungan yang kualami.

Namun, sayangnya manusia tak pernah mampu menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tak pernah mengira jika pertolongan tak selamanya mampu menjadi penyelesaian. Aku tak pernah mengira jika pertolongan mampu menjadi rasa bersalah yang tak berkesudahan.

***

 

 

——— BERSAMBUNG ———

One thought on “[PART 5] Hujan di Bawah Payung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top