Solat Subuh di Masjid Nabawi
Kami bangun sekitar pukul 3 pagi, langsung menuju restoran hotel untuk sahur. Setelah itu kami langsung mandi dan bersiap untuk sholat Subuh di masjid Nabawi. Kenapa langsung mandi? Karena jam 07:00 kami ada jadwal City Tour, sementara jadwal sholat Subuh adalah jam 05:30. Dengan perkiraan keluar dari masjid sekitar jam 06:00, rasanya sangat mepet kalau harus mandi setelah sholat. Jadi kami memutuskan mandi sebelum sholat, kemudian setelah sholat nanti tinggal ganti baju sama wudhu.
Sekitar pukul 04:30 kami berangkat ke masjid. Saat sudah memasuki pelataran masjid Nabawi, kami langsung berpisah menuju shaf masing-masing (shaf laki-laki dan shaf perempuan). Meski waktu menunjukkan satu jam sebelum Subuh, tapi masjid bagian dalam pada area perempuan sudah penuh. Aku dan Mama akhirnya mencari area kosong di pelataran, tak jauh dari gate 14. Berbeda denganku dan Mama, Papa dan adikku masih dapat shaf didalam masjid. Meski sedih karena tidak dapat shaf didalam masjid, tapi aku masih bersyukur karena setidaknya posisi kami masih didalam pelataran masjid. Tidak seperti saat sholat Tarawih kemarin yang dapat posisi diluar pelataran.
Sambil menunggu waktu Subuh, aku dan Mama menghabiskan waktu hanya dengan membaca Al-Qur’an sambil sesekali minum air. Ohiya, tidak ada Imsak ya, tetapi batasnya sesuai waktu Subuh. Yang menarik adalah di sebelah Mama ada orang luar (bukan Indonesia) yang ternyata butuh minum sebelum waktu Subuh berkumandang. Kami yang kebetulan memang membawa beberapa botol kecil, tentu saja langsung membagi salah satunya. Tapi bukan disitu sisi menariknya. Melainkan dari cara komunikasinya. Sama seperti orang Indonesia yang tidak semuanya bisa bahasa Inggris, hal ini berlaku pula bagi orang-orang dari negara lain. Sehingga cara komunikasi yang sering digunakan adalah menggunakan bahasa andalan, yaitu bahasa tubuh hehehe. Kalimat dasar yang hampir semua orang pahami hanyalah “shukran” dan “thankyou“. Orang tersebut pun seingatku mengatakan sesuatu dalam bahasanya kemudian diikuti “shukran“. Tentu saja yang dapat dipahami Mama hanya “shukran” wkwkwkwk.
Kami selesai sholat Subuh sekitar pukul 06:30, lebih siang dari perkiraan bukan? syukurlah kami sudah mandi, jadi tidak perlu buru-buru kembali ke hotel. Kami menyusuri pelataran masjid Nabawi sambil menikmati payung-payung masjid Nabawi yang mulai terbuka secara perlahan. MasyaAllah indah banget! Mama yang begitu antusias tentu saja langsung kurekam, kemudian melakukan liputan ala-ala hehehe.
Kami berempat akhirnya bertemu di sekitar gate 13/14 (lupa persisnya). Aku dan Mama yang melihat informasi pada gate tersebut yang menunjukkan bahwa sudah tidak penuh, akhirnya masuk untuk sekedar melihat bagian dalam masjid Nabawi. Karena sejak datang kemarin, kami sama sekali belum masuk ke bagian dalam masjid Nabawi. Suasana didalam masjib benar-benar sudah longgar karena banyak yang sudah keluar dari masjid. Anehnya, kenapa saat itu aku sama sekali tidak terpikirkan untuk melakukan sholat sunnah? :”( mungkin karena waktu yang sudah mepet dengan jadwal City Tour juga (jam 07:00), makanya saat itu pikirku tidak bisa berlama-lama karena harus segera kembali ke hotel.
Adikku kembali ke hotel lebih dulu karena perutnya mules wkwkwk, aku, Papa, dan Mama jalan-jalan sebentar di pelataran masjid Nabawi. Kami menuju kubah hijau tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan. Aku penasaran di sebelah mana posisinya, karena sejak tiba kemarin, kami benar-benar tidak ada kesempatan untuk berkeliling, mengingat masjid Nabawi yang begitu luas. Tiba di sekitar kubah hijau, aku hanya bisa melihat sebentar dan tidak bisa semakin mendekat karena perlu berjalan lebih jauh lagi, sementara waktu yang tersisa tidak banyak.
City Tour
Saat tiba di hotel, ternyata belum ada pergerakan sama sekali, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 7 kurang. Kami pun segera kembali ke kamar untuk berganti baju dan wudhu. Karena salah satu tujuan kami adalah masjid Quba, dimana jika ingin sholat disana, disarankan untuk mengambil wudhu sebelum melakukan perjalanan, maka kami mengambil wudhu di hotel dan menjaga wudhu tersebut sampai tiba di masjid Quba.
Kami berangkat dari hotel sekitar pukul 8 (perkiraan, lupa persisnya), kemudian tiba di masjid Quba sekitar setengah 9. Kami berjalan dari parkiran menuju masjid Quba, sambil mendengarkan penjelasan terkait masjid Quba oleh muthawif kami. Hingga kemudian kami diberi kesempatan untuk melakukan shalat Dhuha didalam masjid Quba. Saat tiba di area perempuan, seperti biasa selalu ramai. Tapi rupanya keramain tersebut hanya di tempat wudhu. Alhamdulillah aku dan Mama yang masih ada wudhu langsung menuju tempat sholat yang menaiki tangga. Sepertinya posisi sholat kami tepat berada dibawah salah satu kubah.
Selesai sholat aku dan Mama berfoto sebentar didalam masjid (foto sambil duduk, tanpa keributan), kemudian langsung keluar masjid untu bertemu Papa dan adikku. Setelah foto dengan grup travel, kami foto sendiri-sendiri sebentar, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kebun Kurma. Tidak banyak yang kami lakukan di Kebun Kurma, karena sejatinya tempat tersebut adalah tempat oleh-oleh. Mama membeli kurma ajwa, sementara aku dan adikku membeli berbagai macam jenis coklat.
Tujuan berikutnya adalah Jabal Uhud. Saat tiba, kami langsung dibawa ke area yang merupakan Makam Syuhada Uhud. Muthawif menjelaskan tentang keutamaan ziarah ke makam tersebut, kemudian juga sejarah singkat mengenai makam tersebut. Setelah itu kami berdoa, kemudian free time beberapa saat untuk melihat sekitar dan juga befoto. Setelah itu kami kembali dan tiba di hotel sekitar pukul 11/12 siang (yang pasti 1 atau 1 setengah jam sebelum Dhuhur).
Sholat Dhuhur, Berbuka Puasa, dan Sholat Tarawih
Saat tiba di hotel, aku dan Mama memutuskan untuk langsung ke masjid Nabawi, agar dapat shaf didalam. Sementara Papa dan adikku mau ke kamar dulu untuk istirahat. Tapi sayangnya, shaf didalam masjid lagi-dan-lagi sudah penuh. Aku dan Mama dapat shaf didepan salah satu gate (lupa gate berapa), yang pasti masih didalam pelataran dan dekat dengan salah satu gate.
Selesai sholat Dhuhur, aku dan Mama kembali ke hotel karena kami harus mandi dan beristirahat. Awalnya kami bimbang banget, mau tetap di masjid sampai Tarawih atau tidak. Tapi agar tidak kelelahan, kami memutuskan kembali ke hotel dan sholat Ashar di hotel. Dan benar saja, sampai di hotel kami langsung tertidur. Lelah karena City Tour, sementara stamina harus benar-benar dijaga karena besoknya kami akan menjalankan umrah.
Kami kembali ke masjid sekitar 17:30, kemudian aku dan Mama mendapatkan shaf di pelataran masjid Nabawi. Papa dan adikku? sepertinya tidak perlu kujelaskan detail, tapi intinya peluang Papa dan adikku untuk mendapatkan shaf didalam masjid itu masih besar. Meski begitu kami selalu berkabar dapat posisi dimana.
Aku dan Mama memutuskan untuk lanjut sampai sholat Tarawih, tidak kembali ke hotel untuk buka puasa makanan berat. Karena ternyata selesai Tarawih pun restoran di hotel masih buka dan makanannya pun masih beragam, jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan. Aku pun berharap selesai sholat Maghrib, shaf didalam masjid akan available. Tapi ternyata harapan tersebut harus sirna. Aku dan Mama bahkan sudah berkeliling ke beberapa titik, tapi nihil. Area dalam masjid benar-benar penuh, bahkan di pelataran pun hampir penuh.
Ketika jam sudah benar-benar mendekati waktu sholat Isya, aku dan Mama masih belum dapat tempat untuk sholat. Disitu aku benar-benar merasa desperate, sedih, capek karena berkeliling, semuanya campur aduk. Kami akhirnya dapat shaf didalam pelataran, tetapi tanpa karpet sholat, sehingga kami hanya beralaskan sajadah yang kami bawa. Untuk dapat posisi tersebut pun kami harus melewati pembatas tali rafia, karena sebenarnya area tersebut sudah ditutup. Entah kenapa perasaan campur aduk benar-benar memenuhi benakku saat itu, bahkan aku menangis ditengah sholatku. Sepertinya Mama merasakan itu, karena di pertengahan Mama menawarkan untuk pulang, tapi aku berusaha untuk tetap lanjut. Sampai saat rakaat terakhir sholat Tarawih, aku mengajak Mama untuk kembali ke hotel.
Malam terakhir di Madinah benar-benar emosional untukku. Kesedihan karena tidak merasakan sholat didalam masjid Nabawi, kesedihan karena tidak bisa ke Raudhah, kesedihan karena tidak bisa mengelilingi keseluruhan masjid Nabawi, dan masih banyak lainnya. Waktu yang sangat singat dengan jadwal yang sangat padat membuatku tidak mampu melakukan banyak hal. Serta karena masih harus menjaga stamina sebab ibadah utamanya (umrah) belum dilaksanakan, membuatku harus tetap istirahat semaksimal mungkin. Tapi dengan banyaknya hal yang belum kulalui tersebut, keinginanku untuk kembali lagi bersama keluarga menjadi semakin besar.
Baca Juga:
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – Daftar Umrah
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – Persiapan
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – 20, 21 Februari 2026
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – 22 Februari 2026
