Pembuatan Paspor
Setelah DP, aku langsung memikirkan bagaimana proses pembuatan paspor nantinya? Karena posisi Papa, Mama, dan adikku di daerah sementara aku di Jakarta, tentu saja harus menentukan apakah akan membuat paspor sendiri-sendiri atau bersama-sama? Karena khawatir Papa, Mama, dan adikku kesulitan jika membuat sendiri, aku akhirnya memutuskan untuk membuat paspor di daerah, aku yang harus pulang kampung. Pertimbangan lainnya adalah karena ternyata jadwal pembuatan paspor di daerah lebih banyak yang kosong, daripada jadwal di Jakarta yang lebih sering penuh.
18 Oktober 2025, aku melakukan pengajuan permohonan paspor untuk tanggal 24 Oktober 2025. Setelah itu aku langsung membeli tiket pulang di tanggal 23 Oktober 2025. Dan 2 hari kemudian baru membeli tiket untuk kembali ke Jakarta pada tanggal 26 Oktober 2025. Setelah itu aku segera mencari info tentang dokumen-dokumen yang perlu dipersiapkan untuk membuat paspor nantinya, salah satunya surat rekomendasi dari agen travel. Aku dibantu Papa untuk mengorganisir dokumen-dokumennya. Karena sebagian besar dokumennya ada di rumah, jadi aku hanya membantu proses pembuatan surat rekomendasi dari agen travel.
24 Oktober 2025 sekitar setengah 6 pagi, aku baru sampai di rumah. Tanpa istirahat, aku langsung siap-siap untuk berangkat ke kantor imigrasi. Karena estimasi dari Papa harus berangkat sekitar jam 7 atau 8 pagi. Ohya karena kami ngga punya mobil, Papa yang urus sewa mobilnya. Sebenarnya bisa aja naik 2 motor, tapi Papa khawatir capek jadi lebih memilih sewa mobil. Ohiya, lokasi kantor imigrasinya tidak di daerahku, tapi di daerah sebelah, jadi perjalanannya sedikit lebih jauh.
Kami sampai di kantor imigrasi jam 8 pagi, padahal jadwal kami sebenarnya di jam 9 pagi. Tapi alhamdulillah kami bisa langsung ikut antrian meskipun belum jadwalnya. Karena belum ada materai, aku dan adikku akhirnya membeli materai dulu di koperasi kantor imigrasi. Setelah itu kami menunggu antrian untuk pemeriksaan kelengkapan data (kalau ngga salah), yang pasti saat itu dicek semua data kami satu-per-satu. Setelah itu kami antri wawancara, tapi antrian Papa dipisah karena Papa sudah terkategori lansia (meskipun lansia newbie kalo kata adikku hehe). Proses antri saat wawancara tidak terlalu banyak, dan counter yang memproses pun cukup banyak, jadi kami tidak perlu menunggu lama untuk dipanggil satu-per-satu. Pertanyaan yang diajukan secara garis besar adalah terkait verifikasi data diri dan alasan kepergian. Setelah itu scan sidik jari dan foto.
Kami bertiga selesai lebih cepat daripada Papa. Rupanya antrian sebelum Papa mengalami sedikit kendala saat proses wawancara, sehingga Papa harus menunggu lama. Untuk Papa sendiri saat wawancara katanya lancar dan cepat prosesnya. Alhamdulillah kami berempat selesai semua prosesnya di jam 9 lebih. Jujur prosesnya benar-benar lebih dari ekspektasiku. Pikirku prosesnya akan ribet dan lama (berdasarkan beberapa review), tapi ternyata selama semua persyaratan dokumennya sudah lengkap dan alasannya positif, insyaallah lancar dan cepat. Untuk yang umrah wajib banget sih minta surat rekomendasi dari agen travel, karena ini membantu banget dalam prosesnya, terutama jika orang tua sudah masuk kategori lansia.
Paspor dijadwalkan bisa diambil satu minggu kemudian, tentu saja aku tidak mungkin mengambilnya sendiri. Akhirnya adikku yang akan mengambil semua paspor kami. Alhamdulillah di tanggal tsb proses pengambilan pun lancar, adikku hanya perlu menunjukkan kartu keluarga sebagai bukti supaya bisa mengambil paspor kami berempat.
Vaksin Meningitis dan Polio
Persiapan berikutnya adalah vaksin. Sejak selesai proses pembuatan paspor, aku langsung meminta bantuan Papa untuk dicarikan RS atau Klinik yang bisa melakukan vaksin meningitis dan polio yang juga dapat generate sertifikatnya. Karena sertifikat inilah yang kami perlukan sebagai salah satu syarat kelengkapan dokumen umrah. Kami pun menemukan salah satu RS yang dapat melakukannya, tapi kami masih belum menentukan kapan akan melakukannya.
Setelah mengetahui vaksin sejak Desember untuk keberangkatan Februari itu diperbolehkan, aku langsung meminta Papa untuk menjadwalkan vaksin di RS tsb. Ketika tanggal sudah ditentukan, aku pun segera membeli tiket untuk pulang. Iya, sebenarnya bisa kok vaksin sendiri-sendiri tanpa aku harus pulang kampung. Tapi karena paspor harus diserahkan ke agen travel, aku harus mengambilnya di rumah. Bisa sih dikirim via paket, tapi aku cukup khawatir karena itu kan dokumen penting banget. Makanya sekalian vaksin aku juga ambil paspornya di rumah untuk kubawa ke Jakarta.
19 Desember 2025 pagi, aku tiba di rumah. Langsung lanjut kerja hari itu juga karena memang aku ijin WFH satu hari, sementara jadwal vaksinnya di tanggal 20 Desember 2025 siang. Aku sengaja meminta WFH satu hari karena saat vaksin perlu kondisi tubuh yang fit, kurang tepat rasanya kalau aku baru sampai paginya di rumah, kemudian siangnya harus vaksin. Kondisi tubuh pasti lagi capek karena perjalanan jauh.
Alhamdulillah proses vaksin di tanggal 20 Desember 2025 berjalan lancar dan tidak ada antrian sama sekali. Yang lucu pada bagian ini adalah adikku hehe. Dia memang dulu takut sama jarum suntik, tapi sejak covid-19 kemarin ketakutannya perlahan sirna karena mau-tidak-mau saat covid-19 itu harus vaksin. Perawat dan dokter di RS yang tau hal tsb akhirnya bercandain adikku wkwkwk. Adikku juga agak kaget karena ternyata disuntiknya kanan-kiri, well karena memang vaksinnya kan 2 jenis untuk meningitis dan polio.
Perjalanan dan Penginapan di Jakarta
Karena paket yang aku pilih adalah keberangkatan dari Jakarta, maka Papa, Mama dan adikku harus ke Jakarta terlebih dahulu. Aku memutuskan harus menginap satu malam untuk beristirahat, agar saat keberangkatan nantinya kondisi tubuh sudah tidak capek. Setelah melalui berbagai pertimbangan, aku memilih posisi penginapan di daerah Menteng agar dekat dengan Masjid Istiqlal karena Mama pengen sholat tarawih disana, serta posisi Menteng juga tidak terlalu jauh dari stasiun dan bandara Soekarno-Hatta.
Aku tidak langsung membeli tiket dari Jakarta ke daerah karena masih belum menentukan apakah nanti setelah kembali ke Jakarta (dari Arab Saudi) mau langsung kembali ke daerah, atau menginap satu malam dulu di Jakarta. Banyak faktor yang membuatku bimbang untuk menentukan kedua opsi tsb.
Persiapan Lainnya
Seperti yang kuduga, banyak sekali persiapan diluar dokumen yang juga harus dilengkapi, seperti koper salah satunya. Ohya agen travel yang kupilih (Hamdan Tour) memang tidak menyediakan koper dalam fasilitasnya. Aku pribadi setuju, karena sudah banyak review koper dari travel itu rata-rata kualitasnya agak kurang, sehingga memang lebih baik kita bawa sendiri supaya bisa memilih kualitas yang lebih bagus dan tahan lama. Karena aku hanya punya koper ukuran 20 inch, jadi kami berempat harus beli koper yang berukuran 24 inch. Tapi karena aku merasa 4 koper akan kurang, alhasil aku membawa koperku yang 20 inch juga.
Selain koper, kami juga membeli gamis, sandal, dan barang-barang pelengkap lainnya. Aku juga mempersiapkan kartu debit khusus untuk transaksi luar negeri. Berdasarkan beberapa pengalaman orang lain yang kartunya dibobol setelah bertransaksi di luar negeri, demi menghindari hal tersebut alangkah baiknya untuk tidak menggunakan kartu debit utama saat bertransaksi disana. Aku kemarin membuat kartu debit baru dari Jago dan yang berlogo Visa. Kenapa tidak pakai cash? Aku tetap bawa cash untuk jaga-jaga saja. Karena menurut referensi dari beberapa orang, rate jika ambil uang disana dan bertransaksi pakai kartu itu lebih kecil daripada rate money changer.
Mengenai penukaran uang dari Rupiah ke Riyal di Indonesia, banyak sekali pilihan money changer yang terpercaya. Aku pribadi sebenarnya ini sudah kedua kalinya melakukan penukaran dari Rupiah ke Riyal di dua tempat berbeda, tapi aku benar-benar tidak memperhatikan detail terkait biayanya. Jadi tidak bisa merekomendasikan money changer mana yang lebih murah biayanya.
Baca Juga:
