Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga - 20, 21 Februari 2026
Travel Story

Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – 20, 21 Februari 2026

20 Februari 2026

Papa, Mama, dan adikku berangkat sekitar pukul 7 pagi, dan sampai di Jakarta pukul setengah 7 malam. Tanpa menunggu lama, kami langsung menuju penginapan untuk makan (berbuka puasa). Niat hati setelah makan ingin langsung ke Masjid Istiqlal, tapi apa daya sudah cukup terlambat karena kami baru selesai makan sekitar setengah 8 malam.

Malam itu kami habiskan dengan bercengkrama, membahas persiapan yang sudah dilakukan, serta memastikan mengatur ulang koper masing-masing. Maklum, koperku yang paling berat perlu dibagi-bagi isinya supaya tidak melebihi maksimal bagasinya nanti. Aku juga baru sempat menuliskan doa-doa yang mau kubacakan nantinya pada malam itu. Hari-hari sebelumnya tidak sempat karena banyaknya pekerjaan yang harus aku atur dan selesaikan sebelum kutinggal cuti selama 5 hari.

21 Februari 2026

Waktu kumpul dari travel dijadwalkan sekitar pukul 8 malam di salah satu resto di Terminal 3 Soekarno-Hatta, tapi karena penginapan kami maksimal checkout pukul satu siang, mau-tidak-mau kami harus tetap check-out. Daripada bingung mau ngapain dan karena Papa, Mama, dan adikku memang belum pernah ke Kota Tua, kami pun memutuskan untuk pergi kesana. Sampai sekitar pukul setengah 4 sore, kami memutuskan untuk langsung menuju bandara Soekarno-Hatta.

Tiba di bandara, kami langsung mencari mushola untuk sholat ashar yang lokasinya dekat dengan tempat kami parkir. Setelah itu berkeliling mencari dimana lokasi persisnya kami akan berkumpul. Maklum, kami memang belum familiar dengan Terminal 3 Soekarno-Hatta, apalagi bagian keberangkatan internasional. Rupanya tak butuh waktu lama untuk kami menemukan lokasi tsb. Karena lokasinya berada di lantai 3 sementara parkiran kami di lantai 2, agar tidak perlu bolak-balik lagi, kami memutuskan untuk mengambil koper dan menunggu di lantai 3 dekat musholla.

Sambil duduk menunggu waktu maghrib, kami memperhatikan sekitar. Rupanya banyak sekali rombongan jamaah umrah yang berangkat hari itu juga dari berbagai agen travel yang berbeda-beda. Saat tiba waktu berbuka puasa, kami hanya minum air mineral dan makan makanan ringan sebagai pengganjal. Sengaja karena saat berkumpul nanti kami akan makan berat bersama rombongan, jadi supaya tidak mubadzir nantinya, kami menyiapkan space di perut hehehe.

Saat sholat maghrib, masyaallah ramainya bukan main. Sebenarnya aku tidak masalah dengan antrian di keramaian tersebut, hanya saja yang kusayangkan adalah saat aku dan Mama sholat, ada orang yang berdiri tepat di area kami sujud. Bayangkan, bagaimana kami harus sujud ketika disitu ada kaki yang sama sekali tidak bergeming meskipun tahu persis jika disitu sedang ada orang sholat? Aku dan Mama hanya bisa menyesuaikan posisi seadanya. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain bersabar dan mengucap istighfar. Meskipun sebenarnya aku ngga habis pikir, kok bisa????

Oke lupakan, setelah itu kami sengaja menjaga wudhu sambil menunggu tiba waktunya sholat isya. Aku dan Mama menunggu di luar tentu saja, karena sangat tidak memungkinkan jika menunggu didalam.

Bertemu Rombongan, Proses Imigrasi, dan Take Off

Selesai sholat isya, sekitar setengah 8 malam kami langsung menunju lokasi berkumpul. Meskipun sedikit bingung harus menunggu dimana karena tim dari travelnya belum tiba, kami tetap menunggu di tempat duduk yang ada tak jauh dari resto. Sekitar satu jam kemudian, tim dari travel akhirnya tiba dan melakukan beberapa persiapan. Hingga kemudian kami pun dipanggil untuk mengumpulkan koper. Saat memberikan koper kami, tim dari travelnya cukup terkejut karena kami berempat hanya membawa 5 koper. Jika dipikir-pikir memang sedikit sih bawaan kami, biasanya kan paling tidak satu orang itu 2 koper dimana 1 koper besar dan 1 koper sedang/kecil.

Setelah mengumpulkan koper dan mendapatkan ID Card Siskopatuh, kami diminta menunggu sejenak untuk persiapan makan malam. Saat persiapan selesai, kami mencari tempat duduk dan memesan makanan sesuai arahan dari tim travel. Sambil menunggu makanan tiba, kami diberi pengarahan serta informasi mengenai tour leader kami dan apa saja yang perlu diperhatikan nantinya. Selesai makan kami menunggu sejenak hingga dikumpulkan kembali untuk pembagian syal, tas serut, serta paspor dan visa.

Ketika melewati pemeriksaan barang bawaan saat menuju imigrasi, sebuah drama terjadi. Tas serut adikku ketinggalan! Aku yang sama sekali tidak melihat bagaimana adikku meletakkannya tentu saja tak bisa banyak membantu selain sedikit ngomel hehe. Aku yang notabene takut ketinggalan rombongan, mulai panik saat mendengar ada yang ketinggalan. Kami pun kembali ke area pemeriksaan untuk mencari tas tersebut. Menanyakan pada petugas, meskipun hampir dibawa oleh jamaah lain, tapi alhamdulillah petugasnya memang melihat jika tas itu milik adikku. And done, alhamdulillah selesai urusan tas serut.

Saat tiba di imigrasi, proses inilah yang cukup mendebarkan. Karena aku benar-benar clueless tetang prosesnya, meskipun sudah dijelaskan oleh tour leader, tetap saja deg-degan. Alhamdulillah aku, Mama, dan adikku lancar saat melewati autogate. Hanya saja Papa masih terkendala, disini aku cukup panik karena first time dan benar-benar khawatir kalo ketinggalan rombongan. Tapi alhamdulillah tour leader kami menunggu sampai Papa berhasil masuk. Karena terus-menerus gagal melalui autogate, akhirnya Papa diminta untuk melalui imigrasi manual. And done, alhamdulillah. Keberadaan tour leader yang menemani kami sampai berhasil benar-benar bikin tenang. Entahlah apa yang membuat Papa gagal melalui autogate, padahal secara penampilan maupun kondisi mata itu tidak ada perubahan.

Selesai dengan drama imigrasi, kami akhirnya tiba di Gate keberangkatan. Mau tau sebuah fun fact ? Ingat orang yang berdiri di area sujudku saat sholat maghrib? Ternyata kami satu pesawat! Aku tahu dari seragam travelnya yang sangat kuingat saat itu. Ya, dunia memang sempit. Setelah menunggu dan menunggu, kami akhirnya naik pesawat dan alhamdulillah kami duduk satu baris berempat di bagian tengah. Saat akan take off aku meminta Papa, Mama, dan adikku untuk saling bergandengan, karena saat take off itu adalah moment yang cukup mendebarkan bagiku.

Selama take off bahkan saat sudah diatas awan, batinku tak pernah berhenti mengucap syukur dan bahagia karena perjalanan ke luar negeriku yang pertama kali adalah pergi umrah bersama Papa, Mama, dan adikku. Bahkan jika mengingat moment itu kembali sekarang, aku masih tetap meneteskan air mata

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top