Secara sederhana, kita membagi pengeluaran menjadi dua jenis, yaitu pengeluaran utama dan pengeluaran tambahan. Pengeluaran utama berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari seperti sewa kost/kontrakan, biaya listrik, transportasi, makan, dsb. Sementara pengeluaran tambahan berkaitan dengan hal-hal yang membuat kita senang atau meningkatkan pengetahuan kita, seperti nongkrong di kafe, belanja, ikut kelas tertentu, dsb. Perbedaan lain adalah pada rutinitasnya, dimana pengeluaran utama pasti akan ada di setiap bulan, sementara pengeluaran tambahan tidak selalu ada di setiap bulannya. Nominal pengeluaran tambahan pun tidak selalu sama.
Tapi kini, ada beberapa pengeluaran tambahan yang justru bergeser peran menjadi pengeluaran utama. Contohnya aplikasi langganan video/musik/lainnya. Aplikasi-aplikasi ini sejatinya bukanlah hal utama yang kita butuhkan. Tetapi di lain sisi ada saatnya kita butuh aplikasi-aplikasi tersebut untuk menghilangkan penat agar tidak stres. Kenapa aku bilang bergeser peran? Karena aplikas-aplikasi langganan harus kita bayarkan setiap bulannya, tidak peduli kita benar-benar menggunakannya atau tidak. Hal ini yang membuat pengeluaran tambahan tersebut menjadi pengeluaran utama tanpa kita sadari.
Pergeseran peran inilah yang menjadi salah satu penyebab membengkaknya pengeluaran setiap bulan. Tak hanya itu, masih banyak kebiasaan lain yang juga menjadi penyebab pengeluaranmu menjadi membengkak. Ini dia beberapa kebiasaan tersebut yang perlu kamu waspadai.
1. Langsung membeli sesuatu (belanja) setelah gajian atau mendapat pemasukan
Seringkali saat tanggal gajian atau mendapatkan pemasukan, kita langsung menggunakan uang tersebut untuk membeli sesuatu yang sudah kita inginkan sebelumnya. Tanpa berpikir ulang apakah kita benar-benar membutuhkannya atau tidak.
2. Mudah tergiur oleh diskon atau promo gratis ongkir
Ucapan manis marketing yang sering mengatakan “diskon khusus hari ini” atau “gratis ongkir khusus hari ini”, membuat kita tanpa sadar membeli barang tersebut secara impulsif. Khawatir jika besok belum tentu ada diskon atau promo gratis ongkir lagi.
3. Mengisi waktu luang dengan scrolling aplikasi belanja
Sadar atau tidak, meskipun hanya sekedar iseng, scrolling aplikasi belanja bisa membuat kita menginginkan barang-barang baru yang bahkan tidak kita pikirkan sebelumnya. Yang kemudian berakhir pada checkout barang-barang yang mungkin saja sebenarnya tidak diperlukan.
4. Terbiasa menggunakan PayLater tanpa dibatasi
Mudahnya proses pendaftaran PayLater serta penggunaannya yang mulai meluas membuat pilihan pembayaran yang satu ini menjadi primadona. Tidak hanya untuk belanja di e-commerce, tetapi juga dapat digunakan untuk membayar di merchant-merchant, dan masih banyak yang lainnya.
5. Meremehkan pengeluaran-pengeluaran kecil
Biaya admin, biaya lain-lain, kopi murah, dll. Semuanya mungkin saja memang dibawah 10.000 atau bahkan dibawah 5.000, tetapi jika dilakukan terus-menerus tentu saja totalnya bisa menjadi ratusan ribu. Lumayan banget itu.
6. Self reward tanpa pertimbangan
Ada kalanya self reward ini dilakukan secara impulsif. Sehingga tak jarang jika dilakukan tanpa mempertimbangkan harga sekalipun.
7. Menyimpan bahan makanan hingga busuk
Seringkali kita membeli bahan makanan berlebih dengan niat untuk stok persiapan masak beberapa hari kedepan, tetapi justru berujung lupa hingga bahan-bahan tersebut membusuk dan tidak bisa digunakan.
8. Terlalu sering membeli makanan/minuman online tanpa perhitungan
Banyaknya promo pada aplikasi pemesanan makanan/minuman online memang sangat menggiurkan. Hingga membuat kita secara tidak sadar perlahan mulai ketergantungan jika tidak segera dibatasi.
9. Malu dan gengsi membawa bekal sendiri
Faktor lingkunan biasanya menjadi salah satu penentu poin yang satu ini. Meski begitu memang ada pula yang secara pribadi tidak mau membawa bekal sendiri karena gengsi, takut dianggap kuno, pelit, atau yang lainnya.
10. Langganan berbagai macam aplikasi tanpa difilter
Begitu mudahnya berlangganan aplikasi terkadang membuat kita tidak menyadari bahwa biaya langganan tersebut terus berjalan meskipun kita tidak menggunakan aplikasi tersebut.
11. Selalu berusaha mengikuti tren
Istilah gaulnya FOMO (Fear of Missing Out). Setiap ada apapun yang sedang ten di sosial media, selalu berusaha mengikuti tren tersebut, membeli barang-barang demi memenuhi tren tersebut. Meskipun belum tentu barang-barang tersebut akan berguna lagi di kemudian hari.
12. Terlalu sering nongkrong hanya karena merasa tidak enak untuk menolaknya
Pada sebagian orang, mengucapkan kata “tidak” itu memang terasa cukup berat. Sehingga mau-tidak-mau menuruti penawaran teman-temannya untuk pergi nongkrong ke tempat yang terkadang tidak sesuai dengan budget pribadi.
13. Sering mentraktir tanpa pertimbangan
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mentraktir tanpa pertimbangan, hanya jika keuanganmu sudah sangat berlebih. Sayangnya ada sebagian orang yang ingin terlihat “mampu” meskipun sebenarnya belum, sehingga mereka berusaha menunjukkannya dengan sering mentraktir meskipun keuangannya pas-pas an.
14. Tidak mencatat pemasukan dan pengeluaran
Dengan tidak tercatatnya pemasukan dan pengeluaran secara rapi, membuat kita tidak bisa mengetahui berapa persisnya uang yang kita miliki. Dan ketidaktahuan tersebut membuat kita tidak mampu melakukan perkiraan pengeluaran apa saja yang bisa dilakukan kedepannya.
15. Tidak memisahkan uang tabungan dengan uang jajan
Mirip dengan poin 14, tidak adanya kejelasan pembatas antara uang tabungan dan uang jajan membuat kita suatu hari menganggap semua uang tersebut adalah uang jajan. Padahal ada jatah uang tabungan didalamnya.
Bagaimana? Cukup banyak bukan kebiasaan-kebiasaan yang sadar atau tidak sudah membuat pengeluaran kita membengkak?
Sebaiknya segera hentikan kebiasaan-kebiasaan tersebut sebelum terlambat. Tak perlu bingung harus memulai dari mana, coba baca beberapa tips hemat tanpa menyiksa diri, kemudian lakukan secara bertahap dan konsisten.
Baca Juga:
