22 Februari 2026
Sekitar pukul 6 pagi waktu Arab Saudi, alhamdulillah kami landing dengan selamat. Setelah turun dari pesawat kami hanya mengikuti rombongan, sebenarnya agak samar-samar harus kemana. And again, aku khawatir terkait imigrasi. Beginilah efek melihat beberapa cerita tentang proses imigrasi yang cukup menakutkan itu, alhasil aku pun khawatir banget. Tapi alhamdulillah ternyata prosesnya cepat dan lancar.
Setelah selesai pengecekan di imigrasi, harus langsung keluar dari area tersebut. Kemarin aku, Papa, Mama, dan adik langsung merapihkan paspor dkk setelah imigrasi, karena terlalu lama alhasil kami diminta segera keluar darisana. Diminta keluarnya baik-baik kok, tenang hehe.
Keluar dari area imigrasi, kami langsung mencari rombongan. Karena ikut travel, kami tidak perlu mengurus bagasi, jadi langsung menuju ruang tunggu penjemputan. Ada tim dari travel termasuk mutawif kami juga yang rupanya sudah menunggu di ruang tunggu. Kami menunggu persis didepan aquarium raksasa yang viral dimana-mana, masyaallah.
Setelah beberapa menit, kami diminta keluar bersama-sama menuju bis yang akan membawa kami ke Madinah. Iya, tujuan pertama kami adalah Madinah. Sampai di bis ternyata kami tidak langsung berangkat. Kami masih harus menunggu proses pengambilan koper kami yang ternyata belum selesai. Bis kami alhamdulillah nyaman, aku duduk dengan Mama, dan adikku duduk dengan Papa. Ohya adikku laki-laki ya, jadi memang nanti kami membagi peran dimana aku menjaga Mama, sementara adikku menjaga Papa.
Saat semua koper sudah masuk bagasi bis, kami akhirnya berangkat menuju Madinah. Kami melewati jalan tol yang dikelilingin gurun pasir. Tak jarang pula kami menjumpai hewan-hewan di gurun tersebut, seperti unta dan kambing. Sambil menikmati pemandangan gurun yang tidak bisa kunikmati di Indonesia, tiada henti aku bersyukur dan juga tidak menyangka karena aku bisa pergi ke tempat yang selalu aku dan Mama ku inginkan, sekeluarga. Tetapi sesekali aku tertidur juga sih karena lelah selama perjalanan hehe. Kami juga sempat berhenti di rest area dua kali, yang pertama itu niatnya untuk ke toilet dan sholat Dhuhur, tapi ternyata belum masuk waktu Dhuhur. Akhirnya kami sholat Dhuhur jamak taqdim dengan Ashar di rest area berikutnya. Sepanjang yang kulihat, suasana rest area hanya dipenuhi bis dan penumpangnya saja.
Setelah menempuh perjalanan dari Jeddah menuju Madinah selama sekitar 4 jam, kami akhirnya tiba di kota suci Madinah. Kami melewati beberapa area pertokoan, melihat sekilas kehidupan di kota Madinah yang tampak begitu tenang dan nyaman, masyaallah. Hingga akhirnya kami tiba di depan hotel yang akan kami tempati, yaitu Jawharat Al Rasheed Hotel. Lokasinya dekat dengan Masjid Nabawi gerbang 310.
Check-In Hotel dan Perkenalan Masjid Nabawi
Tiba di hotel yang masyaallah ramainya, kami tidak langsung masuk ke kamar, melainkan harus menunggu proses check-in yang cukup lama sekitar 30 menit atau lebih (lupa persisnya berapa lama). Saat itu waktu menunjukkan sekitar pukul 3 sore, lobby hotel benar-benar ramai orang yang mau check-out dan check-in, banyak sekali koper-koper dari berbagai rombongan dan berbagai negara. Koper kami saja saat itu belum terlihat, karena memang sepertinya masih proses menurunkan dari bis.
Kami dapat kamar sekitar pukul 4 sore, itu pun koper kami masih belum tiba. Padahal kami ada jadwal untuk pengenalan area Masjib Nabawi sekitar pukul 5 sore. Wah saat itu berasa banget sih hectic nya. Kami yang benar-benar ngga expect kalau proses antar koper ke kamar masing-masing itu cukup lama, hanya bisa menunggu sampai koper tiba. Alhamdulillahnya koper tiba sekitar setengah 5 sore, tapi waktu sudah sangat mepet. Kami pun bersiap-siap dengan mode ninja (cepet-cepetan) wkwkwk. Yah meskipun Mama ku tidak bisa secepat itu siap-siapnya hehehe.
Kami benar-benar selesai dan keluar dari kamar hotel (belum turun pake lift) itu sekitar pukul 5 sore lebih, dan yap kami ditinggal oleh rombongan wkwkwk. Ya wajar aja, karena kami sudah diingatkan untuk tidak telat tapi tetap aja telat hhmm. Beruntungnya kami ketemu beberapa orang lain yang juga satu rombongan dengan kami dan juga telat (ditinggal) wkwkwk. Kami pun modal menerka-nerka “kemana perginya rombongan kami?”, kemudian mengikuti insting menuju Masjid Nabawi gerbang 310. Dan alhamdulillah kami bertemu lagi dengan rombongan tak jauh dari gerbang 310 hehehe.
Setelah kami masuk ke pelataran Masjid Nabawi, mutowif langsung menjelaskan terkait area-area di Masjid Nabawi, mana yang area laki-laki, mana yang area perempuan, dsb. Ketika waktu menunjukkan pukul setengah 6 sore, kami langsung berpisah antara laki-laki dan perempuan karena sudah mendekati waktu Maghrib, dan kami harus segera mencari shaf sholat untuk berbuka puasa dan sholat nantinya. Shaf perempuan agak jauh dari gerbang masuk kami, sehingga perlu berjalan cukup jauh menuju area belakang. Tiba di area shaf perempuan, kami masih harus terus berjalan dan melihat sekitar untuk mencari shaf yang masih kosong.
Alhamdulillah kami masih dapat shaf di area pelataran, saat menemukannya pun kami langsung sat-set sebelum ditempati orang lain. Kalo ditanya kenapa di pelataran, bukan didalam masjid? karena yang didalam masjid sudah penuh. Di Masjid Nabawi itu ada banyak gate (pintu) untuk masuk ke masjidnya (istilah gerbang itu untuk masuk ke pelataran, sedangkan pintu itu untuk masuk ke dalam masjid), dan di masing-masing pintu itu juga ada informasi apakah shaf di area pintu tersebut sudah penuh atau belum. Jadi kita ngga perlu masuk satu-per-satu ke masing-masing pintu untuk tahu penuh atau tidaknya, karena bisa hanya dengan melihat info di masing-masing pintunya. Meskipun infonya menggunakan bahasa arab, tenang aja ada perbedaan warna kok. Aku pun baca infonya dengan melihat warnanya hijau atau merah, hijau artinya masih ada shaf kosong, merah artinya sudah penuh.
Buka Puasa Pertama di Masjid Nabawi
Sambil menunggu Maghrib, aku dan Mama lebih banyak membaca Al-Quran sambil sesekali ngobrol dan terdiam melihat suasana di pelataran Masjid Nabawi yang masyaallah bagusnya. Saat semakin mendekati waktu Maghrib, payung-payung di Masjid Nabawi mulai ditutup bersamaan dengan askar yang mulai membagikan takjil. Aku benar-benar takjub dan masih ngga menyangka bisa melihat secara langsung payung-payung Masjid Nabawi tertutup secara perlahan.
Ohiya takjil, memang setahuku saat bulan Ramadhan itu masjid-masjid di Saudi Arabia selalu membagikan takjil dari orang-orang yang men-sedekahkannya. Jadi orang-orang sedekah ke masjid berupa uang, kemudian pengurus masjid lah yang membelanjakan dan membagikannya berupa takjil tersebut. Selain dapat takjil dari masjid, kami juga dapat beberapa makanan dan minuman dari orang-orang sekitar. Banyak sekali orang-orang yang berbagi secara mandiri, entah itu berupa makanan ringan, kurma, atau juga berupa minuman. Sangat bisa dipahami sih, karena bulan Ramadhan jadi orang-orang berlomba untuk dapat pahala sedekah apalagi sedekah untuk berbuka puasa, masyaallah.
Saat adzan berkumandang, kami langsung membatalkan puasa dengan berbagai macam takjil yang kami terima. Takjil di hari pertama kami ini benar-benar masyaallah banyaknya, bahkan kami dapat kebab juga dari orang Indonesia tapi bukan rombongan kami. Waktu berbuka puasa hanya sekitar 10 sampai 15 menit, karena setelah itu kami langsung sholat Maghrib dan sholat sunnah jenazah. Di Masjid Nabawi setiap selesai sholat fardhu memang selalu ada sholat sunnah jenazah. Selesai seholat Maghrib kami ada waktu 2 jam untuk makan berat sebelum sholat isya. Itulah sebabnya saat berbuka puasa waktunya sangat singkat karena terdapat kelonggaran setelah sholat Maghrib, dimana biasanya jarak Maghrib ke isya hanya 1 jam, ini ditambahkan menjadi 2 jam. Sehingga kita punya cukup waktu untuk makan berat.
Tarawih Pertama di Masjid Nabawi
Tarawih pertama tapi uda gong banget sih. Salahku yang bolak-balik lobby-kamar karena ada aja barang yang ketinggalan, alhasil kami baru keluar dari hotel itu sekitar jam 8 malam lebih, padahal Isya itu sekitar jam 20:29. Memang terlihat masih jauh jarak waktunya, tapi disana itu sudah mepet banget, bahkan kita hampir tidak bisa ke Masjid Nabawi karena pas banget setelah kita lewat itu jalanan menuju masjid ditutup. Disana memang ketika sudah hampir masuk waktu sholat, ada beberapa jalanan yang aksesnya ditutup oleh askar.
Ohiya, kami berangkat sholat Isya ini hanya berempat, Papa, Mama, aku, dan adikku. Karena bukan bagian dari jadwal travel makanya kami berangkat terpisah dengan rombongan. Saat memasuki gerbang Masjid Nabawi, aku dan Mama langsung berpisah dengan Papa dan adikku, karena berbeda shaf tentu saja. Saat akan menuju area shaf perempuan, ternyata aksesnya sudah ditutup oleh askar, aku ngga tahu alasannya, mungkin karena sudah mepet waktu Isya. Alhasil aku dan Mama keluar area pelataran untuk mencoba masuk dari gerbang lainnya. Tapi karena jaraknya yang lumayan jauh, sementara waktu Isya sudah sangat dekat, kami pun akhirnya tidak bisa kembali masuk ke pelataran Masjid Nabawi. Aku dan Mama akhirnya sholat di area luar masjid yang juga disediakan oleh masjid karena terdapat karpet untuk sholat serta sudah diatur posisi-posisi dan pengelompokkannya. Tapi meskipun begitu aku tetap sedih, karena tarawih pertama kami tidak bisa didalam Masjid Nabawi.
Shalat tarawih dilaksanakan sebanyak 10 rakaat, kemudian witir 3 rakaat (2 rakaat dan 1 rakaat). Meski begitu bacaan pada masing-masing rakaatnya sangatlah panjang, karena memang membacakan 1 juz untuk serangkaian sholat tarawih tersebut, bukan surat pendek. Saat rakaat terakhir witir pun yang dibacakan doa yang sangat panjang, bukan doa qunut yang biasa kuketahui akan dibacakan di rakaat terakhir witir pada 15 hari terakhir bulan Ramadhan.
Baca Juga:
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – Daftar Umrah
- Umrah Ramadhan 2026 Bersama Keluarga – Persiapan
